Editor in Chief South China Morning Post (SCMP), Chow Chung Yan, menilai pendekatan Indonesia dalam menjaga keseimbangan geopolitik di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China mencerminkan kebutuhan negara-negara berkembang untuk bersikap cermat dan bertumpu pada pemahaman mendalam terhadap dinamika dua kekuatan besar dunia.
Menurut Chow, dunia saat ini memasuki fase rivalitas kekuatan besar yang kian tajam. Situasi tersebut membuat banyak negara mempertanyakan posisi dan langkah yang seharusnya diambil.
“Pertanyaan tentang bagaimana seharusnya mengambil posisi kini muncul di berbagai belahan dunia,” kata Chow dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Chow menjelaskan, Amerika Serikat saat ini menjadi basis pembaca terbesar SCMP, disusul kawasan ASEAN. Sementara itu, selama lebih dari 120 tahun SCMP melaporkan perkembangan China secara konsisten. Menurut dia, posisi tersebut memberi SCMP sudut pandang yang relatif seimbang dalam menafsirkan ketegangan geopolitik global.
Di tengah ketegangan geopolitik terbaru, Chow menekankan hal paling mendasar adalah pemahaman yang utuh terhadap Amerika Serikat dan China. Ia menyoroti China sebagai salah satu negara terbesar dengan sejarah peradaban yang panjang, namun memiliki sistem yang sangat berbeda dibandingkan banyak negara lain.
Ia juga mengkritisi cara pandang global terhadap China yang dinilai selama ini banyak dibentuk oleh narasi media Barat.
“Media Barat memiliki jurnalis yang profesional, tetapi sering kali melaporkan Tiongkok dari perspektif yang tetap. Untuk negara yang sangat kompleks seperti Tiongkok, pendekatan itu bukan satu-satunya cara terbaik untuk memahaminya,” ujar Chow.
Berbeda dari pendekatan tersebut, SCMP menyatakan berupaya menghadirkan liputan dari berbagai sudut pandang. Dengan jurnalis yang berasal dari China daratan, Hong Kong, ASEAN, dan sejumlah negara lain, media itu berusaha menjelaskan China kepada dunia secara lebih komprehensif dan berlapis.
Dalam konteks Indonesia, Chow menilai pemahaman terhadap karakter dan pendekatan masing-masing kekuatan besar menjadi kunci dalam menentukan posisi geopolitik. Ia mencontohkan perbedaan mendasar antara Amerika Serikat dan China.
Menurut Chow, Amerika Serikat menganut pandangan global berbasis nilai, di mana negara lain—khususnya negara non-Barat—diharapkan menyesuaikan diri dengan nilai tersebut. Sementara itu, China disebut menempatkan pembangunan sebagai prioritas utama.
“Bagi China, pembangunan adalah hal terpenting bagi setiap negara. Tanpa pembangunan, tidak realistis membicarakan hal-hal lainnya,” katanya.
Perbedaan pandangan dunia itu, lanjut Chow, menciptakan tantangan sekaligus peluang bagi negara seperti Indonesia. Ia menilai strategi terbaik bagi Indonesia bukanlah berpihak, melainkan membekali diri dengan informasi yang berkualitas, memahami perubahan mendasar di kedua kubu, serta menimbang peluang dan risiko nasional secara cermat.
“Dari sudut pandang media, posisi Indonesia akan semakin kuat jika didasarkan pada pemahaman yang mendalam, bukan pada narasi tunggal,” pungkas Chow.

