Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Barat kembali menggelar Saprahan Khatulistiwa 2026 yang memasuki tahun keenam pelaksanaan. Kegiatan ini juga menjadi tahun kedua kolaborasi dengan Kalbar Food Festival, dan digelar di Ayani Mega Mall Pontianak pada Senin (4/5/2026).
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menyatakan Saprahan Khatulistiwa tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi bagian dari strategi untuk mendorong transformasi ekonomi daerah yang bertumpu pada UMKM, pariwisata, dan digitalisasi.
“Kita berharap UMKM Kalimantan Barat terus tumbuh dan naik kelas, menjadi penopang ekonomi daerah serta mampu menembus pasar regional hingga global dengan tetap mengangkat kearifan lokal,” kata Ricky.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Ricky menilai kinerja ekonomi Kalimantan Barat menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekonomi daerah tumbuh 5,39 persen secara tahunan, meningkat dibanding 4,9 persen pada 2024 dan disebut menjadi salah satu yang tertinggi di Kalimantan.
Menurutnya, capaian tersebut berkaitan dengan peran UMKM yang kini mencapai 46.800 unit usaha. Penguatan ekosistem ekonomi juga didorong melalui digitalisasi, salah satunya terlihat dari peningkatan penggunaan QRIS.
“Hingga awal 2026, merchant QRIS di Kalbar sudah lebih dari 501 ribu dengan 804 ribu pengguna dan 16,7 juta transaksi. Mayoritas berasal dari usaha mikro, ini menunjukkan digitalisasi benar-benar menyentuh akar ekonomi,” ujarnya.
Kepala Perwakilan BI Kalbar, Doni Septadijaya, mengatakan tema Saprahan Khatulistiwa 2026 menitikberatkan pada transformasi UMKM dan pariwisata melalui penguatan kelembagaan, perluasan pasar, serta keuangan inklusif berbasis teknologi. Ia menyebut rangkaian kegiatan seperti business matching, promosi, dan edukasi diharapkan memperluas keterlibatan UMKM dalam rantai pasok yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Melalui business matching, promosi, dan edukasi, kita ingin UMKM masuk ke rantai pasok yang lebih luas dan berkelanjutan,” kata Doni.
Selain pameran, agenda Saprahan Khatulistiwa 2026 juga mencakup temu bisnis, edukasi rupiah dan QRIS, bincang wastra, hingga fashion show. Lebih dari 60 booth UMKM terlibat dalam expo yang berlangsung hingga 10 Mei 2026.
Sekretaris Daerah Kalbar, dr. Harisson, menilai kegiatan ini menunjukkan budaya dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus daya tarik wisata. Ia menekankan tradisi saprahan tidak hanya merepresentasikan kebersamaan, tetapi juga dapat mengintegrasikan budaya, pariwisata, dan ekonomi lokal.
“Tradisi saprahan bukan hanya simbol kebersamaan, tetapi juga cara efektif mengintegrasikan budaya, pariwisata, dan ekonomi lokal dalam satu gerakan,” ujarnya.
Harisson menambahkan, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 20,27 persen pada awal 2026 menjadi sinyal positif bagi Kalimantan Barat. Namun, ia menilai transformasi tetap diperlukan agar UMKM dan pariwisata berkembang berkelanjutan.
“UMKM harus naik kelas lewat inovasi, kualitas, dan digitalisasi. Pariwisata juga harus dikelola lebih profesional agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.