BERITA TERKINI
Rusia Peringatkan Uni Eropa Berisiko Jadi Pembeli Terakhir Energi di Tengah Pergeseran Pasar ke Asia

Rusia Peringatkan Uni Eropa Berisiko Jadi Pembeli Terakhir Energi di Tengah Pergeseran Pasar ke Asia

Pasokan energi global disebut ikut terdampak oleh konflik AS-Israel dan Iran, menambah tantangan bagi Eropa yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan akibat sanksi terhadap Rusia terkait perang di Ukraina.

Dalam perkembangan terbaru, Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev memperingatkan Uni Eropa (UE) bahwa kawasan itu berisiko menjadi pihak terakhir yang dilayani dalam antrean pembelian sumber daya energi Rusia. Peringatan tersebut disampaikan di tengah langkah Rusia yang terus memperluas hubungan dagang dengan negara-negara lain.

Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (23/3/2026), Dmitriev menyebut posisi UE saat ini berada “di ujung antrean”. Ia menulis bahwa negara-negara UE pada akhirnya akan mencari cara untuk kembali masuk dalam antrean pembelian energi Rusia, namun antreannya dinilai sudah panjang sehingga mereka harus berada di bagian paling belakang. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa minat Eropa untuk kembali membeli energi Rusia muncul ketika ketersediaan dipandang semakin terbatas karena tingginya permintaan dari mitra dagang lain.

Pernyataan Dmitriev muncul bersamaan dengan kabar kemitraan strategis baru Rusia dengan Vietnam. Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh dilaporkan baru berkunjung ke Rusia dan disebut menandatangani sejumlah perjanjian energi. Dalam pertemuan itu, Perdana Menteri Rusia Mikhail Vladimirovich Mishustin menyambut kedatangan Chinh, sementara kedua pihak membahas penguatan kerja sama bilateral di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan, serta urusan kemanusiaan.

Selain agenda tersebut, kedua pemimpin juga menyinggung proyek-proyek besar yang berpotensi dikerjakan bersama, khususnya pada sektor energi, industri, transportasi, dan pertanian.

Perluasan pasar energi Rusia ke Asia bukan hal baru. Sejak eskalasi konflik Ukraina pada 2022, impor energi Rusia ke UE dilaporkan menurun drastis. Di tengah blokade dan sanksi dari negara-negara Barat, Rusia mengalihkan aliran ekspor minyak mentah ke Asia dan memperkuat hubungan dagang dengan negara-negara di kawasan tersebut.

Meski demikian, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan pintu bagi Eropa tidak sepenuhnya tertutup. Mengutip laporan Russia Today, Putin mengatakan Rusia siap kembali bekerja sama dengan pembeli dari Eropa dengan syarat adanya “kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan” yang bebas dari pertimbangan politik. Putin menegaskan Rusia tidak pernah menolak negara-negara Eropa, namun meminta bukti bahwa Eropa siap memberikan stabilitas dan keberlanjutan sebagai imbalannya.

Di sisi lain, sinyal peninjauan kebijakan sanksi energi mulai terdengar dari sejumlah pemimpin Eropa. Perdana Menteri Belgia Bart De Wever disebut mengusulkan pemulihan hubungan dengan Rusia dengan tujuan mendapatkan harga energi lebih murah. Sementara itu, Hungaria dan Slovakia—yang selama ini dikenal menentang pembatasan terhadap minyak dan gas Rusia—terus menyuarakan keberatan atas kebijakan sanksi yang dinilai merugikan ekonomi domestik.