Rusia mengonfirmasi telah menembakkan rudal Oreshnik ke wilayah Ukraina pada Jumat, sebuah langkah yang kembali menyorot penggunaan senjata hipersonik jarak menengah di tengah eskalasi perang. Peluncuran kali ini diarahkan ke Ukraina bagian barat, di area dekat Lviv—kota yang berjarak sekitar 60–70 kilometer dari perbatasan Polandia, negara anggota NATO.
Oreshnik—yang dalam bahasa Rusia berarti “Pohon Hazel”—dikategorikan sebagai rudal balistik hipersonik jarak menengah. Salah satu cirinya adalah kemampuan membawa beberapa hulu ledak untuk menyerang target berbeda secara bersamaan, karakteristik yang umumnya dikaitkan dengan rudal balistik antarbenua (ICBM). Secara teknis, sistem ini disebut dikembangkan dari platform RS-26 Rubezh yang awalnya dirancang sebagai rudal antarbenua.
Seperti banyak sistem persenjataan strategis Rusia, Oreshnik dapat dipasangi hulu ledak nuklir maupun konvensional. Namun, tidak ada indikasi bahwa serangan terbaru melibatkan muatan nuklir. Ukraina menyatakan rudal tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 13.000 kilometer per jam, sehingga dinilai sangat sulit dicegat oleh pertahanan udara konvensional.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya mengklaim Oreshnik nyaris mustahil dicegat dan memiliki daya hancur setara senjata nuklir meski menggunakan hulu ledak konvensional. Sejumlah pakar militer Barat menilai klaim itu berlebihan. Pada Desember 2024, seorang pejabat Amerika Serikat juga mengatakan senjata ini belum dianggap sebagai “pengubah permainan” di medan perang karena masih bersifat eksperimental dan jumlahnya sangat terbatas.
Rusia dilaporkan telah memasukkan Oreshnik ke tahap produksi serial sejak 2024 dan menyalurkannya ke Belarus, sekutu dekat Moskow. Meski demikian, dampak serangan terbaru dinilai terbatas. Seorang pejabat senior Ukraina mengatakan rudal tersebut kemungkinan membawa hulu ledak inert atau “dummy” tanpa bahan peledak. Rudal itu dilaporkan menghantam sebuah perusahaan milik negara di Lviv dan hanya menimbulkan penetrasi ringan pada struktur beton serta kawah di area sekitar.
Penggunaan hulu ledak tiruan ini dipandang sebagai sinyal strategis, bukan upaya menciptakan kehancuran besar. Sejumlah pakar keamanan menilai langkah tersebut dimaksudkan untuk memperingatkan Ukraina dan negara-negara Barat bahwa Rusia memiliki rudal hipersonik berkemampuan nuklir yang bisa digunakan sewaktu-waktu.
Gerhard Mangott, spesialis Rusia di Universitas Innsbruck, Austria, menilai tindakan Moskow perlu dilihat dalam konteks rasa frustrasi Rusia yang merasa tersisih dalam diplomasi selama berminggu-minggu antara Amerika Serikat, Ukraina, dan negara-negara Eropa. Ia juga menyebut Moskow “sangat marah” atas rencana potensi penempatan pasukan oleh sekutu Eropa Kyiv.
“Ini adalah sinyal kepada Amerika Serikat dan Eropa tentang kemampuan militer tentara Rusia,” kata Mangott. Ia menambahkan, Rusia ingin diperlakukan serius dalam perundingan mengingat persenjataan militernya, dan menginginkan Eropa serta Donald Trump kembali memberikan tingkat minimum penghormatan terhadap posisi Rusia.
Pavel Podvig, Direktur Russian Nuclear Forces Project, menilai penggunaan Oreshnik pada tahap ini tampak ditujukan untuk pensinyalan sehingga kehancuran bukan selalu tujuan utama. Menurutnya, langkah tersebut kemungkinan merupakan sinyal umum mengenai tekad untuk melakukan eskalasi dan Barat akan membacanya sebagai pesan semacam itu.
Reaksi dari Barat berlangsung cepat. Para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman menyebut serangan tersebut “eskalatif dan tidak dapat diterima.” Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan serangan itu merupakan “eskalasi yang jelas terhadap Ukraina” dan dimaksudkan sebagai peringatan bagi Eropa dan Amerika Serikat.
Moskow menyatakan penembakan Oreshnik dilakukan sebagai respons atas dugaan upaya serangan drone Ukraina terhadap salah satu kediaman Presiden Putin di Rusia utara pada 29 Desember. Ukraina membantah klaim tersebut dan menyebut tidak ada serangan semacam itu.
Sementara itu, sekutu Eropa Kyiv menilai Rusia berupaya mengintimidasi Barat agar mengurangi dukungan terhadap Ukraina, terutama setelah Inggris dan Prancis mengumumkan rencana pengiriman pasukan jika tercapai gencatan senjata. Selain faktor militer, sejumlah analis politik menilai Moskow juga ingin menunjukkan kekuatan di tengah tekanan geopolitik dan penurunan prestise sejak awal tahun, termasuk langkah Amerika Serikat terhadap sekutu Rusia dan aset energi Rusia di luar negeri.

