BERITA TERKINI
Catatan APOGCE, Konferensi Energi di Australia (2)

Catatan APOGCE, Konferensi Energi di Australia (2)

MENGADAPTASI REVOLUSI MINYAK NONKONVENSIONAL AMERIKA SERIKAT DAN CHINA UNTUK INDONESIA

Oleh Denny JA

Berapa kali seseorang harus gagal sebelum dunia mengakui bahwa ia benar? Di Texas, Amerika Serikat, George Mitchell menghabiskan hampir dua dekade mengejar gas yang terperangkap dalam batuan keras.

Sumur demi sumur dibor. Biaya terus mengalir. Hasilnya belum memuaskan. Banyak orang meragukan kegigihannya. Namun, Mitchell melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Ia percaya bahwa bumi tidak kehabisan energi. Manusialah yang belum menemukan cara membebaskannya. Kelak, kegigihan itu membantu mengubah sejarah energi Amerika dan dunia.

-000-

Kisah George Mitchell membawa kita ke ruang konferensi energi SPE APOGCE 2026 di Brisbane, Australia, pada 13 sampai 15 Oktober.

Dalam panel tentang status sumber daya nonkonvensional Asia Pasifik, penyelenggara mengajukan dua pertanyaan tajam. Mampukah kawasan ini menghasilkan volume sebanding serpih Amerika Utara? Seberapa jauh strategi Amerika Utara dapat diterapkan di sini?

Bagi Indonesia, pertanyaan itu menjadi lebih pribadi. Mungkinkah kita mengadaptasi revolusi minyak nonkonvensional Amerika Serikat, atau jalan China yang lebih sesuai, lalu mengubah batuan yang selama ini terabaikan menjadi sumber baru kemandirian energi nasional?

Taruhannya bukan semata sumur dan teknologi. Ia menyangkut masa depan ekonomi, ketahanan negara, dan kesejahteraan generasi yang belum dilahirkan.

Indonesia telah puluhan tahun menjadi bangsa penghasil minyak. Namun, menurut SKK Migas, lifting minyak 2025 hanya sekitar 606 ribu barel per hari. Kementerian ESDM mencatat konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari.

Artinya, terdapat kesenjangan kebutuhan dan produksi domestik sekitar satu juta barel per hari, yang turut dipenuhi melalui impor minyak mentah dan produk BBM.

Ada paradoks yang menyakitkan. Di bawah tanah kita mungkin tersimpan energi yang belum termanfaatkan, sementara di permukaan kita terus membeli minyak dari negeri lain.

Apakah keterbatasan kita sebenarnya terletak pada kekayaan bumi? Ataukah pada kemampuan ilmu pengetahuan, keberanian investasi, dan ketekunan membangun teknologi sendiri?

-000-

Amerika Serikat: Ketika Kegagalan Melahirkan Revolusi

Apa sebenarnya minyak nonkonvensional? Bayangkan sebuah spons dan sebongkah batu sangat rapat. Keduanya dapat mengandung cairan, tetapi kemampuan melepaskan cairan itu berbeda.

Minyak konvensional ibarat air dalam spons, relatif mudah dikeluarkan. Minyak nonkonvensional seperti air yang terjebak dalam batuan sangat rapat, sehingga sulit mengalir.

Pada pengembangan minyak serpih dan tight oil, sumur sering dibor mendatar mengikuti lapisan batuan. Kemudian, cairan bertekanan tinggi digunakan untuk membuat retakan kecil agar minyak dapat mengalir keluar.

Teknik ini disebut hydraulic fracturing, atau fracking. George Mitchell bukan penemunya. Namun, melalui percobaan panjang, ia berhasil mengembangkan cara yang lebih ekonomis untuk menghasilkan energi dari batuan tersebut.

Pada 1981, perusahaannya mulai menjajaki Barnett Shale, Texas. Bertahun-tahun percobaan dilakukan. Keberhasilan komersial tidak segera datang, sementara biaya eksperimen terus meningkat.

Terobosan penting muncul pada akhir 1990-an melalui penyempurnaan rekahan menggunakan cairan berbasis air yang lebih murah. Pengembangan itu membuka kemungkinan produksi yang lebih luas.

Mitchell terutama membuka jalan bagi revolusi gas serpih. Kemudian, berbagai inovasi pengeboran dan penyelesaian sumur mempercepat produksi minyak dari formasi rapat Amerika.

Hasilnya luar biasa. Menurut Energy Information Administration, produksi tight oil Amerika pada 2023 mencapai 8,32 juta barel per hari, sekitar 64 persen produksi minyak mentah nasional.

Angka itu menunjukkan perubahan sejarah. Amerika bukan hanya menemukan sumber produksi baru, melainkan mengubah keseimbangan pasokan energi dan memperkuat posisi strategisnya di dunia.

Namun, revolusi Amerika memiliki sisi yang sering terlupakan. Sumur nonkonvensional umumnya mengalami penurunan produksi awal yang cepat, sehingga pengeboran baru harus terus dilakukan.

Karena itu, keberhasilan tidak berhenti ketika minyak pertama mengalir. Ia membutuhkan ribuan keputusan berikutnya, penyempurnaan teknologi, pengendalian biaya, dan pengembangan sumber daya manusia.

Keistimewaan Amerika juga terletak pada ekosistemnya. Perusahaan independen, industri jasa pengeboran, pasar modal, universitas, dan pemilik teknologi saling mempercepat proses belajar.

Sebuah kesalahan pada satu sumur dapat menjadi pelajaran bagi sumur berikutnya. Percobaan dilakukan berulang, biaya ditekan, dan desain terus diperbaiki melalui pengalaman lapangan.

Pelajaran Amerika bukan bahwa batuan keras akhirnya menyerah kepada mesin. Pelajarannya adalah bahwa kegagalan dapat berubah menjadi pengetahuan ketika manusia bersedia terus belajar.

-000-

China: Belajar dari Amerika, Menemukan Jalannya Sendiri

China memperhatikan revolusi Amerika dengan serius. Negara itu memiliki kebutuhan energi besar, kemampuan industri luas, dan alasan strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Namun, China segera menghadapi kenyataan yang tidak sederhana. Batuan yang menyimpan minyak di wilayahnya sering memiliki karakter berbeda dari formasi produktif Amerika.

Banyak sumber minyak serpih Amerika terbentuk dalam lingkungan laut purba. Sebaliknya, sejumlah formasi utama China berasal dari endapan danau purba dengan karakter geologi berbeda.

Perbedaan itu memengaruhi jenis batuan, komposisi minyak, tekanan reservoir, serta respons terhadap rekahan. Teknologi yang berhasil di Texas belum tentu berhasil di Xinjiang.

China memilih jalan adaptasi. PetroChina dan Sinopec memperluas penelitian, meningkatkan pengeboran horizontal, serta mengembangkan teknologi stimulasi yang sesuai dengan karakter reservoir domestik.

Jimsar di Cekungan Junggar, Gulong di Daqing, Qingcheng di Cekungan Ordos, dan Jiyang di Cekungan Bohai menjadi tempat pengujian penting.

Para insinyur mempelajari bagaimana minyak dapat bergerak melalui batuan yang sebelumnya sulit diproduksi. Mereka tidak hanya mengulangi metode Amerika, tetapi berusaha memahami keterbatasan geologi sendiri.

Hasilnya mulai nyata. Menurut laporan Reuters pada Maret 2026, produksi minyak serpih China mencapai sekitar 164 ribu barel per hari sepanjang 2025, naik 30 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka tersebut masih jauh lebih kecil dibanding Amerika. Namun, ia menunjukkan bahwa China mulai membangun kemampuan produksi dari sumber daya yang sebelumnya sulit dikembangkan.

Reuters juga mencatat bahwa Sinopec menghasilkan sekitar satu juta ton minyak serpih dari palung Jiyang pada 2025. Jumlah tersebut setara sekitar 20 ribu barel per hari secara rata-rata.

Tantangannya belum selesai. Analis S&P Global Energy memperkirakan biaya produksi siklus penuh minyak serpih China berkisar 45 sampai 90 dolar Amerika per barel, bergantung pada karakter proyek.

Angka itu mengingatkan bahwa keberhasilan teknis tidak otomatis menghasilkan keuntungan. Minyak harus dapat diproduksi dengan biaya yang masuk akal sepanjang umur proyek.

Perbedaan Amerika dan China juga terlihat pada kelembagaannya. Amerika mengandalkan kompetisi perusahaan independen, inovasi swasta, pasar modal, dan industri jasa pengeboran.

China lebih bertumpu pada perusahaan energi negara, penelitian terkoordinasi, investasi jangka panjang, dan pengembangan teknologi domestik sebagai bagian kepentingan strategis nasional.

China tidak menunggu seluruh persoalan geologi selesai sebelum membangun kemampuan industrinya. Tetapi ia juga tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa biaya tinggi membatasi ekspansi produksi.

Di sinilah pelajaran pentingnya. Ketekunan nasional harus berjalan bersama disiplin ekonomi. Keberanian investasi perlu terus diuji oleh produktivitas sumur dan kemampuan menurunkan biaya.

Amerika dan China bertemu pada satu prinsip. Mereka tidak sekadar membeli teknologi. Mereka membangun kemampuan untuk memperbaiki teknologi sesuai kebutuhan dan karakter bumi masing-masing.

-000-

Asia Pasifik: Dua Negara, Dua Jalan Revolusi Nonkonvensional

Program panel APOGCE di Brisbane menempatkan China dan Australia sebagai dua contoh penting mengenai perbedaan perjalanan energi nonkonvensional Asia Pasifik.

China mengembangkan minyak serpih dari endapan danau purba, sekaligus memperluas pengembangan shale gas dan gas dari batu bara. Tantangannya mencakup kompleksitas geologi, biaya, dan penguasaan teknologi.

Australia menempuh perjalanan berbeda. Gas dari lapisan batu bara, atau coal seam gas, telah berkembang menjadi industri matang yang memasok pasar LNG internasional.

Namun, shale gas Velkerri di Cekungan Beetaloo baru bergerak menuju pengembangan awal. Program panel APOGCE menyebut tantangan teknis, manajemen proyek, regulasi, dan penerimaan masyarakat, terlebih di wilayah terpencil.

Dengan demikian, Australia memperlihatkan dua kenyataan sekaligus. Satu jenis energi nonkonvensional dapat mencapai kematangan industri, sementara jenis lainnya masih membutuhkan pembuktian.

China mengajarkan pentingnya adaptasi geologi dan teknologi. Australia mengingatkan bahwa sumber daya besar tidak otomatis menjadi bisnis besar tanpa infrastruktur, pasar, dan penerimaan masyarakat.

Pelajarannya bagi Indonesia mendalam. Revolusi nonkonvensional bukan soal meniru Amerika, melainkan menemukan teknologi, kelembagaan, dan model bisnis yang sesuai dengan bumi sendiri.

-000-

Rokan: Harta Karun yang Menunggu Pembuktian

Bagaimana dengan Indonesia? Pertanyaan tersebut terasa semakin mendesak ketika perhatian diarahkan kepada Rokan, salah satu kawasan minyak paling penting dalam sejarah produksi nasional.

Rokan bukan wilayah asing bagi industri perminyakan. Puluhan tahun aktivitas pengeboran telah membangun infrastruktur, pengalaman teknis, dan pengetahuan mengenai karakter cekungannya.

Namun, sejarah produksi konvensional tidak berarti seluruh potensi hidrokarbonnya sudah dimanfaatkan. Formasi yang lebih rapat membuka kemungkinan eksplorasi dengan pendekatan teknologi berbeda.

Pertamina Hulu Rokan mulai menguji peluang tersebut melalui pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, disusul Kelok DET-1 pada 2024, untuk menyelidiki potensi Formasi Brown Shale.

Pada November 2024, Gulamo DET-1 dinyatakan sebagai penemuan. Sumur itu menjadi tonggak penting pengembangan migas nonkonvensional Indonesia melalui pembuktian aliran hidrokarbon ke permukaan.

Pada November 2025, Wakil Direktur Utama Pertamina menyebut temuan di struktur North Aman sebagai penemuan terbesar dalam satu dekade.

Ditjen Migas mencatat sumber daya terambilnya sekitar 724 juta barel setara minyak, kategori 2C/P50. Angka itu menjanjikan, tetapi belum berstatus cadangan komersial.

Pada September 2026, pemerintah menyetujui kontrak bagi hasil MNK Rokan melalui PT PHE Rokan Nonkonvensional. Kepala SKK Migas juga menyampaikan rencana dua sumur appraisal lanjutan.

Pengujian tersebut penting untuk memperjelas produktivitas, tingkat penurunan produksi, biaya pengembangan, dan kemampuan mengulangi keberhasilan dalam skala yang lebih besar.

Di sinilah saya melihat tantangan sesungguhnya bagi Pertamina Hulu Energi. Bagaimana sebuah penemuan dapat berkembang menjadi sistem produksi yang dapat diandalkan?

Sebagai Komisaris Utama PHE, perhatian saya selalu kembali kepada hubungan antara keberanian, keputusan investasi, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Betapa besar pun angka 724 juta barel setara minyak itu, nilainya bagi ketahanan energi nasional bergantung pada kemampuan membuktikan produksi, keekonomian, dan pengembangan yang berkelanjutan.

Satu sumur yang mengalir dapat melahirkan optimisme. Tetapi ratusan sumur yang bekerja secara ekonomis memerlukan kemampuan organisasi yang jauh lebih rumit.

Kita harus memahami karakter reservoir, kurva penurunan produksi, perkiraan perolehan minyak sepanjang umur sumur, dan biaya untuk menghasilkan setiap barel.

Setiap sumur harus menjadi sumber pengetahuan bagi pengeboran berikutnya. Setiap percobaan harus membantu menurunkan biaya dan meningkatkan ketepatan keputusan.

Rokan memiliki modal awal berupa pengalaman operasi dan infrastruktur migas. Namun, pengembangan nonkonvensional tetap membutuhkan penyesuaian fasilitas, peralatan, logistik, dan pengelolaan lingkungan.

Kita tidak boleh menganggap pengalaman Amerika dapat dipindahkan begitu saja. Karakter batuan Indonesia harus berbicara melalui data, bukan melalui analogi yang terlalu optimistis.

Harta karun energi bukan sekadar minyak yang tersimpan di bawah tanah. Harta karun sesungguhnya adalah kemampuan memproduksinya secara ekonomis, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

-000-

Dari Nasionalisme Sumber Daya Menuju Nasionalisme Pengetahuan

Dari Amerika dan China, saya menarik satu gagasan besar. Kedaulatan energi masa depan tidak cukup dibangun hanya dengan memiliki sumber daya alam.

Selama puluhan tahun, kebanggaan nasional sering diukur dari jumlah cadangan minyak, luas wilayah pertambangan, dan besarnya kekayaan yang diperkirakan tersimpan.

Namun, revolusi nonkonvensional mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dua negara dapat memiliki batuan berpotensi serupa, tetapi menghasilkan tingkat kemakmuran yang sangat berlainan.

Perbedaannya sering terletak pada pengetahuan, teknologi, institusi, dan kemampuan mengambil keputusan. Kekayaan geologi tidak otomatis berubah menjadi kekayaan ekonomi sebuah bangsa.

Inilah yang dapat disebut sebagai pergeseran dari Resource Nationalism menuju Knowledge Nationalism, dari nasionalisme kepemilikan sumber daya menuju nasionalisme penguasaan pengetahuan.

Gagasan ini tidak menolak pentingnya penguasaan nasional atas sumber daya. Justru ia memperluas maknanya, dari memiliki kekayaan menjadi mampu menciptakan nilainya.

Indonesia memerlukan mitra internasional yang telah berpengalaman mengembangkan reservoir nonkonvensional. Tetapi kemitraan itu harus membuat kemampuan insinyur Indonesia semakin kuat.

Mitra terbaik bukan yang membuat kita terus membutuhkan mereka. Mitra terbaik meninggalkan pengetahuan yang tetap bekerja bahkan setelah para tenaga ahlinya pulang.

Bayangkan jika setiap sumur Rokan menjadi ruang belajar nasional. Setiap keberhasilan memperbaiki desain berikutnya. Setiap kegagalan meninggalkan pengetahuan yang terdokumentasi.

Dengan demikian, investasi tidak semata menghasilkan minyak. Ia juga menghasilkan aset yang lebih tahan lama, yakni kemampuan bangsa menguasai teknologi dan mengambil keputusan.

-000-

Keberanian Mengambil Risiko dan Ketakutan Menghadapi Kegagalan

Ada persoalan yang terus mengusik perhatian saya dalam pembahasan investasi energi. Bagaimana mendorong inovasi besar ketika ketidakpastian bisnis sering menimbulkan ketakutan?

Eksplorasi migas tidak pernah menawarkan kepastian penuh. Para ahli dapat mempelajari batuan selama bertahun-tahun, tetapi hasil sesungguhnya tetap harus diuji melalui pengeboran.

Sebagian proyek akan berhasil. Sebagian lainnya mungkin mengecewakan. Bahkan analisis terbaik tidak dapat menghapus seluruh ketidakpastian yang tersimpan jauh di bawah permukaan.

Pertanyaan pentingnya bukan bagaimana membuat setiap investasi pasti berhasil. Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan keputusan diambil secara profesional ketika hasilnya belum dapat dipastikan.

Di lingkungan BUMN, pertanyaan tersebut mempunyai dimensi tambahan. Keputusan bisnis menyangkut dana besar, pertanggungjawaban publik, dan kemungkinan konsekuensi hukum ketika investasi gagal.

Kita membutuhkan prinsip Business Judgment Rule yang diterapkan dengan benar. Keputusan beritikad baik, berdasarkan informasi memadai, dan tanpa konflik kepentingan memerlukan perlindungan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Saya menyadari, sebagai komisaris, pandangan ini dapat dibaca sebagai pembelaan bagi lingkungan sendiri. Karena itu, ukuran perlindungannya harus terbuka dan dapat diuji oleh siapa pun.

Perlindungan itu tidak boleh berubah menjadi kekebalan. Kecurangan, manipulasi kajian, suap, dan penyalahgunaan kewenangan tetap harus dapat ditindak dengan tegas.

Dalam pandangan saya, korporasi energi membutuhkan budaya keberanian yang terukur. Bukan keberanian membabi buta, tetapi keberanian bereksperimen dengan pengawasan dan batas risiko jelas.

Kegagalan sebuah sumur dapat diterima sebagai risiko teknologi yang wajar. Kegagalan membangun proses keputusan yang jujur, profesional, dan transparan merupakan persoalan berbeda.

Revolusi minyak nonkonvensional Indonesia mungkin justru membutuhkan dua terobosan sekaligus, yakni teknologi yang mampu membuka batuan dan kelembagaan yang mampu membuka keberanian.

Sikap kritis dan pengawasan publik bukan penghalang keberanian korporasi, melainkan penjaganya. Keterbukaan data, kesediaan diaudit, dan kejujuran mengakui kegagalan teknis membedakan keberanian profesional dari kecerobohan.

Sebab, integritas BUMN bukan diukur dari kemampuannya menghindari setiap kegagalan, melainkan dari keberaniannya mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

-000-

Tiga Keputusan yang Diperlukan Indonesia dan PHE

Pelajaran internasional tidak boleh berhenti menjadi kekaguman. Bagi PHE, ia perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang dapat diuji melalui target, anggaran, dan hasil nyata.

Pertama, jadikan Rokan laboratorium nasional minyak nonkonvensional.

Susun program pembuktian bertahap, lengkap dengan data reservoir, pengujian produksi, biaya, dan batas keputusan investasi.

Hasil sumur appraisal harus menjadi gerbang keputusan, bukan sekadar seremoni. Ukur produktivitas awal, laju penurunan produksi, perkiraan perolehan minyak per sumur, dan biaya produksi per barel.

Target produksi besar harus disertai model yang transparan mengenai jumlah sumur, kebutuhan investasi, jadwal pengeboran, serta ketidakpastian teknis dan ekonomi.

Kedua, bangun kemitraan teknologi sejak tahap awal.

Pilih perusahaan dengan pengalaman reservoir sebanding, kemampuan menurunkan biaya, dan komitmen nyata mengembangkan insinyur Indonesia.

Setiap kerja sama harus menghasilkan transfer pengetahuan yang dapat diukur: kemampuan merancang sumur, mengolah data reservoir, mengoptimalkan rekahan, dan menurunkan biaya pengembangan.

Jangan sampai teknologi terus dibeli, tetapi kemampuan nasional tidak pernah tumbuh.

Ketiga, satukan keberanian investasi, tata kelola, dan perlindungan lingkungan.

Sejak awal, setiap proyek perlu memiliki batas risiko yang disetujui, tahapan evaluasi yang transparan, serta ukuran keekonomian dan keselamatan yang dapat diaudit.

International Energy Agency menekankan pentingnya transparansi, integritas sumur, pengelolaan air, serta keterlibatan masyarakat dalam pengembangan gas nonkonvensional. Prinsip kehati-hatian serupa relevan untuk minyak.

Masyarakat sekitar proyek harus memperoleh informasi yang jujur. Mereka bukan penghalang pembangunan, melainkan pihak yang kehidupannya akan ikut menentukan legitimasi keberhasilan.

Tiga keputusan ini harus menjadi bagian dari strategi produksi nasional. MNK perlu dipercepat pembuktiannya tanpa mengabaikan disiplin investasi.

Namun, kita juga harus realistis. Penemuan sumber daya hari ini tidak otomatis menghasilkan puluhan ribu barel per hari dalam beberapa tahun. Diperlukan appraisal, persetujuan pengembangan, fasilitas, modal, dan pengeboran berulang.

Ditjen Migas sendiri menjadwalkan produksi mulai 2028, dengan puncak sekitar 39 ribu barel per hari baru pada 2037.

Karena itu, kontribusi MNK terhadap target produksi nasional harus ditetapkan berdasarkan kemampuan teknis yang teruji, bukan sekadar besarnya sumber daya yang diumumkan.

-000-

Tetapi, Apakah Indonesia Terlambat Memasuki Revolusi Ini?

Ada kontraargumen yang patut didengarkan. Dunia sedang beralih menuju energi lebih bersih. Mengapa Indonesia justru harus menanamkan investasi besar pada minyak nonkonvensional?

Risikonya nyata. Biaya pengembangan dapat tinggi. Produksi sumur bisa cepat menurun. Harga minyak berfluktuasi, sementara dampak lingkungan membutuhkan pengawasan yang mahal.

Namun, pertanyaan itu tidak harus dijawab dengan pilihan mutlak. Indonesia masih membutuhkan minyak, sementara elektrifikasi transportasi dan transformasi industri memerlukan waktu panjang.

Pengembangan minyak nonkonvensional harus diposisikan sebagai pilihan strategis bersyarat. Proyek dilanjutkan hanya apabila kelayakan ekonomi, keselamatan, dan manfaat publik dapat dibuktikan.

Kita tidak perlu mengejar setiap tetes minyak dengan biaya berapa pun. Tetapi kita juga tidak seharusnya mengubur kemungkinan sebelum ilmu pengetahuan menyelesaikan pengujiannya.

Masa depan energi bukan pertarungan sederhana antara minyak dan energi terbarukan. Ia merupakan pencarian keseimbangan antara keamanan pasokan, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.

-000-

Dua Buku yang Memperkaya Pemahaman Revolusi Energi

1. The Frackers: The Outrageous Inside Story of the New Billionaire Wildcatters, Gregory Zuckerman, Portfolio, 2013.

Buku ini mengisahkan para pengusaha Amerika yang menantang keyakinan lama industri minyak. George Mitchell dan para pelopor lain mempertaruhkan modal, reputasi, dan masa depan.

Mereka percaya bahwa sumber energi yang dianggap tidak ekonomis masih memiliki kemungkinan. Percobaan berkepanjangan akhirnya melahirkan teknologi yang mengubah produksi minyak dan gas.

Zuckerman memperlihatkan bahwa revolusi besar tidak selalu lahir dari perusahaan terbesar. Ia sering bermula dari orang yang mempertanyakan batas pengetahuan zamannya.

Bagi Indonesia, relevansinya mendalam. Kita membutuhkan ruang bagi eksperimen, keberanian investasi, dan organisasi yang menghargai pembelajaran. Revolusi dimulai ketika kegagalan tidak mengakhiri pencarian.

2. The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations, Daniel Yergin, Penguin Press, 2020.

Daniel Yergin menggambarkan bagaimana revolusi serpih Amerika mengubah geopolitik energi. Peningkatan produksi domestik memberikan pengaruh besar terhadap hubungan internasional dan persaingan ekonomi.

Namun, dunia energi tidak hanya bergerak melalui minyak. Perubahan iklim, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan persaingan antarnegara semakin membentuk tatanan global baru.

Yergin menunjukkan bahwa keputusan energi selalu mempunyai konsekuensi strategis. Negara perlu memahami teknologi sekaligus perubahan pasar, geopolitik, dan arah transisi energi.

Bagi Indonesia, buku ini mengingatkan bahwa ketahanan energi bukan berarti mempertahankan minyak selamanya. Ia berarti membangun kemampuan menghadapi perubahan tanpa kehilangan kemandirian.

-000-

Penutup: Masa Depan Tidak Ditentukan oleh Batuan

Kisah George Mitchell mengingatkan bahwa sejarah sering berubah karena seseorang menolak menerima batas pengetahuan zamannya sebagai batas terakhir kemampuan manusia.

Amerika telah membuktikan kekuatan inovasi. China menunjukkan arti ketekunan nasional. Australia memperlihatkan pentingnya mengubah keberhasilan teknis menjadi industri yang memiliki infrastruktur dan pasar.

Indonesia kini menghadapi pertanyaan apakah mampu membangun jalan sendiri menuju kemandirian energi.

Di bawah tanah Rokan mungkin tersimpan ratusan juta barel setara minyak yang dapat diambil. Namun, kekayaan itu tidak akan membuka dirinya hanya karena kita membutuhkannya, apalagi karena kita berulang kali menyebutnya.

Ia membutuhkan pengetahuan, keberanian, ketekunan, dan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi Indonesia berikutnya.

Amerika dan China mengajarkan bahwa batuan keras dapat dipecahkan oleh teknologi. Namun, masa depan Indonesia baru terbuka ketika kita mampu memecahkan batuan yang lebih keras: ketakutan untuk mencoba, ketergantungan pada pengetahuan asing, dan kebiasaan menyerah sebelum kemungkinan diuji.

Brisbane, Australia, 13 Oktober 2026

-000-

REFERENSI

1. U.S. Energy Information Administration. (2024). How Much Shale (Tight) Oil Is Produced in the United States? https://www.eia.gov/tools/faqs/faq.php?id=847[31]

2. Society of Petroleum Engineers. (2026). APOGCE 2026, 13-15 October 2026, Brisbane. [https://www.spe-events.org/apogce2026](https://www.spe-events.org/apogce2026)

3. Society of Petroleum Engineers. (2026). Panel 2: Status of Unconventional Resources in Asia Pacific. https://www.spe-events.org/apogce2026/technical-programme/panel-2-talent-development-new-paradigm[11]

4. ANTARA. (2026). SKK Migas: Lifting Minyak 2025 Lampaui Target APBN. [https://www.antaranews.com/berita/5517744/skk-migas-lifting-minyak-2025-lampaui-target-apbn](https://www.antaranews.com/berita/5517744/skk-migas-lifting-minyak-2025-lampaui-target-apbn)

5. detikFinance. (17 Juli 2025). RI Impor Minyak Rp 500 T/Tahun, Dulu Bisa Ekspor. [https://finance.detik.com/energi/d-8016903/ri-impor-minyak-rp-500-t-tahun-dulu-bisa-ekspor](https://finance.detik.com/energi/d-8016903/ri-impor-minyak-rp-500-t-tahun-dulu-bisa-ekspor)

6. Reuters. (20 Maret 2026). China's Record Oil Output Reaches Limits of What's Possible. https://www.reuters.com/business/energy/chinas-record-oil-output-reaches-limits-whats-possible-2026-03-20/[6]

7. Reuters. (24 Maret 2026). Sinopec to Ramp Up Bohai Bay Shale Oil as Backup to Sustain Output. https://www.reuters.com/business/energy/sinopec-ramp-up-bohai-bay-shale-oil-backup-sustain-output-2026-03-24/[5]

8. PT Pertamina Hulu Energi. (2024). PHR Gandeng Pertamina Drilling Tajak Sumur Eksplorasi MNK Kedua di Blok Rokan. [https://phe.pertamina.com/id/media/lanjutkan-komitmen-tingkatkan-produksi-migas-nasional-phr-gandeng-pertamina-drilling-tajak-sumur-eksplorasi-mnk-kedua-di-blok-rokan](https://phe.pertamina.com/id/media/lanjutkan-komitmen-tingkatkan-produksi-migas-nasional-phr-gandeng-pertamina-drilling-tajak-sumur-eksplorasi-mnk-kedua-di-blok-rokan)

9. Tirto.id. (19 November 2024). PHR Konfirmasi Discovery di MNK Sumur Gulamo. [https://tirto.id/phr-konfirmasi-discovery-di-mnk-sumur-gulamo-g5VK](https://tirto.id/phr-konfirmasi-discovery-di-mnk-sumur-gulamo-g5VK)

10. CNN Indonesia. (19 November 2025). Pertamina Ungkap Temuan 724 Juta Barel Harta Karun, Terbesar Sedekade. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251119141243-85-1297098/pertamina-ungkap-temuan-724-juta-barel-harta-karun-terbesar-sedekade[9]

11. Kementerian ESDM, Direktorat Jenderal Migas. (9 September 2026). Pemerintah Dorong Percepatan Pengusahaan Migas Non Konvensional, WK Rokan Jadi Pelopor Utama. https://www.migas.esdm.go.id/post/Pemerintah-Dorong-Percepatan-Pengusahaan-Migas-Non-Konvensional-WK-Rokan-Jadi-Pelopor-Utama[4]

12. CNN Indonesia. (16 September 2026). PHR Siapkan Pionir Penggalian Sumber Migas Baru Lewat KBH MNK Rokan. https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260916165213-625-1404698/phr-siapkan-pionir-penggalian-sumber-migas-baru-lewat-kbh-mnk-rokan[8]

13. Mahatva.id. (21 September 2026). PSC MNK Rokan Diserahkan, SKK Migas Siapkan Dua Sumur Eksplorasi Lanjutan. https://mahatva.id/psc-mnk-rokan-diserahkan-skk-migas-siapkan-dua-sumur-eksplorasi-lanjutan[33]

14. Australian Energy Regulator. (2026). Wholesale Gas Performance Report 2026. https://www.aer.gov.au/system/files/2026-05/Wholesale%20gas%20performance%20report%202026_1.pdf[10]

15. International Energy Agency. (2012). Golden Rules for a Golden Age of Gas. OECD/IEA. [https://www.iea.org/reports/golden-rules-for-a-golden-age-of-gas](https://www.iea.org/reports/golden-rules-for-a-golden-age-of-gas)

16. Zuckerman, Gregory. (2013). The Frackers: The Outrageous Inside Story of the New Billionaire Wildcatters. Portfolio.

17. Yergin, Daniel. (2020). The New Map: Energy, Climate, and the Clash of Nations. Penguin Press.