Pengamat politik Rocky Gerung menilai tradisi intelektual di lingkungan pendidikan tinggi perlu tetap terjaga agar tidak terseret ke dalam politik praktis. Menurutnya, ruang-ruang diskusi dan perdebatan akademik harus dipertahankan sebagai bagian penting dari tradisi berpikir kritis.
Ia mencontohkan Yogyakarta sebagai daerah yang selama ini dikenal sebagai tempat berlangsungnya perdebatan akademik. Rocky mengingatkan agar ruang tersebut tidak berubah menjadi arena kepentingan kekuasaan yang justru mengabaikan tradisi intelektual.
“Jogja ini adalah tempat di mana orang datang untuk bertengkar secara akademis. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi,” ujarnya, dikutip Senin, 16 Februari 2026.
Dalam kesempatan yang sama, Rocky turut menyinggung kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menilai terjadi ketimpangan antara gelar akademik yang dimiliki dan kualitas nilai yang dihasilkan.
Menurutnya, situasi tersebut terlihat dari banyaknya lulusan bergelar tinggi yang tidak mendapatkan ruang yang memadai untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya. “Kita hari ini mengalami surplus ijazah, tapi defisit value. Banyak lulusan S3 akhirnya hanya jadi sopir ojek karena negara tidak mampu menyediakan ruang bagi pikiran mereka,” katanya.

