Pengamat politik Rocky Gerung menilai tradisi intelektual perlu terus dijaga agar tidak terseret ke dalam politik praktis. Menurutnya, ruang-ruang yang selama ini menjadi tempat diskusi dan perdebatan akademik harus tetap dipertahankan.
Ia mencontohkan Yogyakarta sebagai daerah yang semestinya tidak berubah menjadi arena kepentingan kekuasaan yang mengabaikan tradisi berpikir kritis. Rocky menyebut Yogyakarta sebagai tempat orang datang untuk “bertengkar secara akademis” dan mengingatkan agar ruang tersebut tidak diambil alih oleh pihak-pihak yang pragmatis.
Dalam pernyataannya, Rocky juga menyinggung kondisi pendidikan tinggi di Indonesia. Ia menilai terjadi ketimpangan antara gelar akademik dan kualitas nilai yang dihasilkan.
Rocky menyebut situasi itu sebagai “surplus ijazah” namun “defisit value”. Ia mencontohkan banyak lulusan S3 yang pada akhirnya bekerja sebagai pengemudi ojek karena negara dinilai belum mampu menyediakan ruang yang memadai bagi pemikiran mereka.

