BERITA TERKINI
Qantas Siap Uji Penerbangan Nonstop 22 Jam Lewat Project Sunrise

Qantas Siap Uji Penerbangan Nonstop 22 Jam Lewat Project Sunrise

Industri penerbangan global bersiap memasuki babak baru seiring rencana Qantas menguji layanan penerbangan komersial nonstop terpanjang di dunia dengan durasi sekitar 22 jam. Melalui proyek bernama Project Sunrise, maskapai nasional Australia itu menargetkan rute langsung dari Sydney ke London dan New York tanpa transit.

Jika rencana tersebut terealisasi, waktu tempuh perjalanan disebut dapat berkurang hingga sekitar empat jam dibandingkan penerbangan dengan satu kali singgah yang selama ini umum digunakan. Qantas menilai langkah ini bukan hanya pencapaian teknis, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang yang berpotensi mengubah peta persaingan industri penerbangan dan pariwisata global.

Untuk mendukung rute jarak ekstrem tersebut, Qantas memesan armada Airbus A350-1000 ULR (Ultra Long Range). Varian ini dimodifikasi dengan tambahan tangki bahan bakar sekitar 20.000 liter, sehingga memungkinkan jangkauan lebih dari 10.000 mil atau sekitar 16.000 kilometer tanpa henti.

Pengiriman pesawat pertama dijadwalkan pada akhir 2026. Pada tahun yang sama, Qantas merencanakan uji terbang sebelum layanan komersial ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Dengan durasi terbang 21–22 jam, rute tersebut berpotensi menjadi penerbangan komersial terjadwal terpanjang di dunia, melampaui sejumlah rute ultra-long-haul yang saat ini sudah beroperasi.

Secara historis, penerbangan jarak sangat jauh banyak mengandalkan model hub and spoke, yakni transit di bandara penghubung seperti Dubai, Doha, atau Singapura. Kehadiran rute nonstop ultra-long-haul dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada pola tersebut, sekaligus membuka peluang bagi maskapai untuk memperkuat konektivitas langsung antarpusat ekonomi global.

Qantas memproyeksikan segmen premium sebagai pasar utama. Dalam konfigurasi khusus Project Sunrise, kapasitas kursi akan dikurangi demi meningkatkan kenyamanan kabin, termasuk rencana menghadirkan zona peregangan dan area kesejahteraan bagi penumpang selama penerbangan panjang.

Rute nonstop berdurasi hingga 22 jam juga dipandang membawa implikasi ekonomi. Efisiensi waktu perjalanan disebut dapat meningkatkan mobilitas pelaku bisnis antara Australia, Amerika Serikat, dan Eropa. Selain itu, akses langsung tanpa transit dinilai lebih menarik bagi wisatawan jarak jauh yang ingin menghindari kerepotan perpindahan pesawat, sehingga berpotensi mendorong kunjungan ke Australia dan berdampak pada sektor terkait seperti hotel, transportasi darat, serta industri jasa.

Di sisi lain, kompetisi global diperkirakan semakin ketat. Maskapai-maskapai dari Timur Tengah dan Asia yang selama ini menjadi penghubung utama rute Eropa–Australia bisa terdorong menyesuaikan strategi, baik melalui peningkatan layanan maupun pembukaan rute langsung serupa.

Meski demikian, layanan ultra-long-haul juga membawa tantangan biaya dan operasional. Durasi 22 jam berarti konsumsi bahan bakar besar dan kebutuhan manajemen kru yang lebih kompleks. Biaya operasional per penerbangan diperkirakan tinggi, sehingga tingkat keterisian kursi harus optimal agar tetap menguntungkan.

Faktor kesehatan dan kenyamanan penumpang turut menjadi perhatian. Qantas sebelumnya melakukan uji coba ilmiah untuk meneliti dampak penerbangan jarak ekstrem terhadap tubuh manusia, termasuk pola tidur dan tingkat kelelahan.

Keberhasilan Project Sunrise disebut akan bergantung pada kombinasi efisiensi teknologi, permintaan pasar premium, serta stabilitas harga bahan bakar global. Jika berjalan sesuai rencana, penerbangan nonstop 22 jam ini berpotensi menggeser pola perjalanan internasional dan mendorong era baru persaingan rute jarak ekstrem, yang tidak lagi sekadar soal jarak, tetapi juga strategi merebut pasar premium dan mempercepat konektivitas global.