Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow siap melanjutkan kerja sama pasokan minyak dan gas dengan pelanggan Eropa apabila negara-negara di kawasan itu ingin kembali menjalin kemitraan jangka panjang tanpa tekanan politik. Pernyataan tersebut disampaikan Putin dalam tayangan televisi pada 9 Maret, di tengah lonjakan harga energi global.
Pada hari yang sama, harga minyak mentah kembali melampaui US$100 per barel dan mencapai level tertinggi sejak konflik di Ukraina dimulai pada 2022. Minyak mentah Brent, patokan internasional, dilaporkan naik lebih dari 30% pada 8 Maret dan sempat menembus US$119 per barel, dipicu kekhawatiran adanya gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi dunia.
Dalam pertemuan dengan pejabat pemerintah serta pimpinan perusahaan energi besar Rusia, Putin menegaskan kesiapan Rusia untuk bekerja sama dengan Eropa jika ada perubahan sikap dari para pembeli. “Jika perusahaan-perusahaan Eropa dan pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengubah orientasi mereka dan menawarkan kerja sama jangka panjang dan berkelanjutan kepada kami, tanpa tekanan politik, maka ya, kami tidak pernah menolaknya. Kami juga siap bekerja sama dengan orang Eropa,” kata Putin.
Putin juga menyinggung situasi di Timur Tengah. Ia meminta perusahaan-perusahaan Rusia memanfaatkan kondisi tersebut setelah Iran disebut melumpuhkan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu titik rawan terpenting di dunia tempat sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global mengalir.
Selama empat tahun terakhir, negara-negara Eropa secara drastis mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas Rusia sebagai respons terhadap tindakan Rusia dan untuk mematuhi sanksi Uni Eropa serta kelompok G7. Uni Eropa telah melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut sejak 2022.
Sementara itu, ekspor minyak Rusia melalui pipa ke Hongaria dan Slovakia juga dilaporkan terganggu akibat kerusakan pada pipa minyak Druzhba yang melintasi Ukraina.
Sebelum perang di Ukraina, Eropa biasanya membeli lebih dari 40% kebutuhan gasnya dari Rusia. Namun pada 2025, total penjualan gas melalui pipa dan gas alam cair dari Rusia diperkirakan hanya mencapai 13% dari total impor Uni Eropa. Berkurangnya pasar Eropa mendorong Rusia menjual minyak dan gas dengan diskon besar ke pasar Asia.
Di sisi lain, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban mendesak Uni Eropa menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia untuk meredam kenaikan harga yang dipicu perang di Timur Tengah.
Dari kelompok G7, negara-negara anggota menyatakan pada 9 Maret siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk merespons kenaikan harga minyak global, meski belum berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.

