Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia siap kembali memasok minyak dan gas ke Eropa jika negara-negara di kawasan tersebut menginginkannya. Namun, ia menegaskan kerja sama itu harus bersifat jangka panjang dan tidak disertai tekanan politik terhadap Moskow.
Dalam pertemuan yang disiarkan televisi pada Senin, 9 Maret, Putin mengatakan Rusia tidak pernah menutup pintu bagi pembeli energi dari Eropa. “Jika perusahaan dan pembeli Eropa tiba-tiba memutuskan untuk mengalihkan arah dan menyediakan kerja sama jangka panjang yang berkelanjutan kepada kami, tanpa tekanan politik, maka silakan saja. Kami tidak pernah menolak,” kata Putin.
Putin menambahkan, Rusia siap bekerja sama kembali dengan negara-negara Eropa selama ada sinyal jelas tentang komitmen jangka panjang. “Kami siap bekerja sama dengan orang-orang Eropa, tetapi kami membutuhkan beberapa sinyal dari mereka bahwa mereka siap dan bersedia bekerja dengan kami serta akan memastikan keberlanjutan dan stabilitas ini,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Harga minyak dunia dilaporkan menembus US$ 100 per barel pada pekan ini untuk pertama kalinya sejak Rusia melancarkan perang di Ukraina pada 2022. Kenaikan harga terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.
Hubungan energi Rusia dan Eropa memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Uni Eropa kemudian melarang impor minyak mentah Rusia melalui jalur laut sebagai bagian dari sanksi ekonomi terhadap Moskow. Sebelum perang, Eropa membeli lebih dari 40% kebutuhan gasnya dari Rusia. Namun pada 2025, penjualan gabungan gas pipa dan gas alam cair Rusia hanya menyumbang sekitar 13% dari total impor energi Uni Eropa.
Pernyataan Putin juga muncul beberapa jam setelah Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán mendesak Uni Eropa menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia. Menurut Orbán, kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan kembali untuk meredam lonjakan harga energi.
Lonjakan harga energi turut dikaitkan dengan perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Konflik yang telah berlangsung lebih dari sepekan itu memicu serangan balasan Iran terhadap target Amerika Serikat dan Israel serta sejumlah fasilitas di kawasan Teluk. Serangan tersebut memperlambat aliran minyak dan gas alam melalui Selat Hormuz, jalur pengiriman energi strategis dunia, hingga hampir terhenti. Kondisi ini mendorong kenaikan harga bahan bakar global dan menimbulkan dampak luas terhadap berbagai sektor industri.
Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menilai Rusia menjadi pihak yang paling diuntungkan dari situasi tersebut. “Sejauh ini hanya ada satu pemenang dalam perang ini, Rusia,” kata Costa dalam pidato kepada para duta besar Uni Eropa di Brussel pada Selasa.
Costa menyatakan kenaikan harga energi memberi Rusia sumber daya tambahan untuk membiayai perang di Ukraina. “Ia memperoleh sumber daya baru untuk membiayai perangnya melawan Ukraina ketika harga energi meningkat,” ujarnya. Ia juga memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi memperluas ketegangan global. “Kebebasan dan hak asasi manusia tidak dapat dicapai melalui bom. Hanya hukum internasional yang menjaganya,” kata Costa. “Kita harus menghindari eskalasi lebih lanjut. Jalan seperti itu mengancam Timur Tengah, Eropa, dan kawasan lainnya,” tambahnya.

