Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (12/3/2026) mengeluarkan peringatan yang berpotensi memengaruhi pasar energi global. Ia menyatakan Rusia dapat mempertimbangkan penghentian pasokan gas ke Eropa apabila kebijakan politik terhadap Moskow terus berlanjut.
Dalam pernyataannya, Putin menegaskan bahwa energi tetap menjadi instrumen strategis Rusia dalam menghadapi dinamika geopolitik. “Rusia selalu menjadi pemasok energi yang dapat diandalkan. Namun jika negara-negara Barat memilih kebijakan yang merugikan kami, tentu kami juga akan mempertimbangkan kembali kerja sama di sektor energi,” ujar Putin.
Putin juga menekankan bahwa pasar energi Rusia tidak hanya bergantung pada Eropa. Menurutnya, jika ada pihak yang menolak kerja sama, Rusia dapat mengalihkan pasokan energinya ke mitra lain. “Kami memiliki sumber daya yang besar dan pasar yang luas. Jika ada pihak yang tidak ingin bekerja sama dengan Rusia, kami akan mengalihkan pasokan kami ke mitra lain yang lebih siap untuk bekerja sama secara adil,” tambahnya.
Selama ini Rusia merupakan salah satu pemasok gas alam terbesar bagi Uni Eropa, sehingga ketergantungan energi kawasan tersebut terhadap Moskow dinilai tinggi. Keterkaitan hubungan politik dan ekonomi antara kedua pihak membuat pernyataan tersebut menjadi perhatian.
Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa dilaporkan berupaya mengurangi ketergantungan energi pada Rusia. Langkah yang ditempuh antara lain meningkatkan impor gas alam cair (LNG), mempercepat transisi ke energi terbarukan, serta memperluas kerja sama energi dengan negara lain.

