Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Moskow siap memasok energi ke Eropa, dengan syarat kerja sama dibangun di atas kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan dan bebas dari tekanan politik. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan daring dengan pejabat pemerintah serta pemimpin industri minyak dan gas.
Dalam pertemuan tersebut, Putin menegaskan Rusia tidak pernah menolak kerja sama. Namun, ia meminta pihak Eropa mengirimkan sinyal yang jelas mengenai niat baik dan komitmen untuk memastikan stabilitas perjanjian energi pada masa mendatang.
Pernyataan itu muncul di tengah kenaikan harga minyak dunia yang menembus di atas 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2022. Putin mengaitkan situasi tersebut dengan blokade Selat Hormuz, jalur pelayaran yang disebut menyumbang sekitar 20% lalu lintas minyak dan gas alam cair (LNG) global.
Menurut Putin, blokade tersebut menimbulkan konsekuensi serius. Ia memperingatkan produksi minyak yang bergantung pada jalur itu berisiko terhenti total bulan depan, baik karena biaya transportasi yang mahal maupun ketidakmampuan untuk beroperasi, yang berdampak pada penuhnya fasilitas penyimpanan di kawasan tersebut.
Di Eropa, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban mendesak Uni Eropa menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia sebagai langkah untuk menahan kenaikan harga energi. Sementara itu, Kelompok Tujuh (G7) menyatakan kesiapan menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk merespons lonjakan harga minyak, meski belum berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.
Putin juga mendorong pelaku usaha Rusia memanfaatkan fluktuasi pasar, seraya menyebut kenaikan harga saat ini bisa bersifat sementara. Ia menambahkan, pendapatan minyak dan gas saat ini menyumbang sekitar 25% dari total anggaran federal Rusia.
Dalam empat tahun terakhir, negara-negara Barat menyatakan tekad untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas Rusia. Data menunjukkan pangsa gas dan LNG Rusia di pasar Uni Eropa turun tajam, dari lebih dari 40% sebelum konflik Ukraina menjadi sekitar 13% pada 2025.

