Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia membuka kemungkinan untuk menghentikan pasokan gas ke Eropa sebelum Uni Eropa menjalankan rencana pelarangan penuh gas Rusia mulai 2027. Pernyataan itu disampaikan Putin pada 4 Maret.
Putin mengatakan, jika Eropa berencana memberlakukan pembatasan dalam waktu dekat, Moskow dapat mempertimbangkan untuk mengalihkan fokus ke pasar yang dinilai lebih terbuka dan menjanjikan. Namun ia menekankan hal itu belum menjadi keputusan resmi dan masih sebatas opsi yang sedang dipertimbangkan.
Menurut Putin, pemerintah Rusia diminta mempelajari isu tersebut bersama perusahaan-perusahaan energi. Ia juga menegaskan Moskow selama ini menjadi pemasok yang dapat diandalkan dan akan tetap bekerja sama dengan mitra yang dianggap stabil oleh Rusia, termasuk sejumlah negara di Eropa Timur.
Di sisi lain, harga gas dilaporkan melonjak tajam. Konflik di Timur Tengah disebut berdampak pada harga energi global, dengan harga gas alam di Uni Eropa naik hingga 60% dalam dua hari terakhir dan melampaui 56 euro per megawatt-jam, level tertinggi sejak awal 2023.
Lonjakan harga itu disebut bermula setelah Qatar Energy mengumumkan dua fasilitas gas utamanya diserang drone. Perusahaan tersebut kemudian menangguhkan sementara produksi gas alam cair (LNG) untuk kontrak yang terdampak.
Sementara itu, penutupan Selat Hormuz memutus jalur pengiriman dari produsen utama lain di kawasan tersebut. Dengan cadangan gas Eropa yang sudah terbatas, situasi ini menambah tekanan pasokan dan memunculkan kekhawatiran kelangkaan dapat terjadi paling cepat pada musim panas ini.

