BERITA TERKINI
Purbaya Nilai Pelemahan Ekonomi AS dan China Tak Banyak Tekan Indonesia: Permintaan Domestik Dominan

Purbaya Nilai Pelemahan Ekonomi AS dan China Tak Banyak Tekan Indonesia: Permintaan Domestik Dominan

Jakarta—Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan ekonomi negara-negara berkekuatan besar seperti Amerika Serikat dan China tidak akan banyak menekan perekonomian Indonesia. Menurutnya, aktivitas ekonomi Indonesia lebih banyak ditopang faktor domestik dibandingkan pengaruh global.

Dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD, Purbaya menyebut sekitar 90% aktivitas ekonomi Indonesia dipengaruhi lingkungan domestik tanpa mempertimbangkan ekspor. Sementara itu, sekitar 10% sisanya berasal dari dampak aktivitas ekonomi global, termasuk dari negara seperti AS dan China.

“Sehingga walaupun global gonjang-ganjing, kita enggak peduli, kekuatan domestic demand kita sekitar 90%, global hanya sekitar 10%,” kata Purbaya, dikutip Selasa (4/11/2025).

Purbaya juga menyinggung porsi ekspor dalam perekonomian. Ia memperkirakan kontribusi ekspor berada di kisaran 20%. Dengan perhitungan tersebut, ia menegaskan Indonesia masih memiliki kendali besar terhadap arah ekonominya melalui faktor domestik. “Kalau ekspor mungkin 20% lah. Let’s say 20%, kita masih 80% menguasai arah ekonomi kita,” ujarnya.

Karena itu, Purbaya mengatakan pihak-pihak yang menyatakan ekonomi Indonesia akan sangat tertekan ketika ekonomi AS melemah—misalnya dari kisaran 3% menjadi 2%—dinilai hanya memengaruhi sentimen pelaku ekonomi di dalam negeri. “Jadi ketika mereka bilang global ekonomi menjadi ancaman, saya agak bingung sebetulnya, harusnya enggak. Dia nakut-nakutin global ancur, kita jadi susah,” tegasnya.

Ia juga menilai perlambatan ekonomi China dalam satu dekade terakhir—dari kisaran 7% menjadi sekitar 5%—tidak serta-merta membuat ekonomi negara tersebut “hancur” dan langsung berdampak besar pada aktivitas ekonomi Indonesia. Purbaya beralasan China memiliki instrumen kebijakan yang dikendalikan negara, mulai dari fiskal, devisa, hingga moneter, sehingga dinilai memiliki ruang untuk memberikan stimulus.

“Jadi gampang aja dia kalau mau kasih stimulus ke perekonomian. Ini indikasinya kan jelas, mereka cukup pandai, dan saya termasuk enggak percaya China akan jatuh dalam waktu dekat,” kata Purbaya.