BERITA TERKINI
Prof. Surjamanto Paparkan Sejumlah Solusi untuk Menekan Urban Heat Island di Perkotaan

Prof. Surjamanto Paparkan Sejumlah Solusi untuk Menekan Urban Heat Island di Perkotaan

Prof. Surjamanto memaparkan berbagai pendekatan untuk mengatasi fenomena urban heat island, yakni kenaikan temperatur udara di kawasan perkotaan dibandingkan wilayah di sekitarnya. Menurutnya, fenomena ini terbentuk antara lain karena selubung bangunan menerima energi matahari, menyimpannya dalam bentuk kalor, lalu melepaskannya kembali ke lingkungan sebagai gelombang panjang atau inframerah. Proses tersebut membentuk kondisi termal di sekitar bangunan perkotaan.

Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa bangunan dengan material berat seperti batu bata, beton, dan aspal cenderung menghasilkan emisi kalor lebih tinggi dibanding material ringan seperti kaca. Perbedaan ini, kata dia, dapat terlihat melalui kamera inframerah atau thermal imager, yang menunjukkan material berat dengan warna dominan merah saat dilakukan pengecekan.

Ia menilai emisi kalor dari material konstruksi, terutama beton dan aspal, membuat fenomena urban heat island sulit dihindari. Dampaknya dinilai serius bila tidak dikendalikan, antara lain hujan es, banjir lokal, serta isu lain yang berkaitan dengan pemanasan global.

Prof. Surjamanto juga menyebut fenomena urban heat island bukan persoalan baru karena telah muncul sejak 1818 dan 1820. Meski demikian, perumusan solusi yang efektif, menurutnya, masih terus dilakukan hingga saat ini.

Salah satu solusi yang disampaikan adalah penggunaan insulasi termal pada bangunan. Prinsipnya dilakukan dengan mengubah dinding batu bata menjadi sandwich wall yang memengaruhi proses aliran kalor pada dinding. Ia menjelaskan, sandwich wall dapat menahan aliran kalor masuk ke dalam ruangan sehingga bagian dalam terasa lebih sejuk karena panas dari luar terpisah. Namun, ia menilai pemisahan ini terlalu ekstrem karena secara tidak langsung dapat meningkatkan kondisi termal di luar bangunan, sehingga untuk lingkungan tropis solusi tersebut dinilai belum memuaskan.

Solusi lain yang dipaparkan adalah teknologi pemantulan yang memanfaatkan peristiwa pemantulan sinar matahari pada material bangunan. Salah satu upaya yang disebutkan ialah melapisi bagian bangunan yang terpapar sinar matahari dengan warna putih agar pemantulan meningkat. Menurutnya, hasil teknologi pemantulan ini dinilai mengesankan karena dapat mengurangi efek urban heat island pada jam-jam terik, serta membantu mengurangi pemanasan termal saat matahari tidak terlalu tinggi.

Di akhir pemaparannya, Prof. Surjamanto menyebut alternatif lain yang juga dikembangkan untuk menangani urban heat island, antara lain pembayangan dan selubung ringan, massa termal internal, serta konversi energi. Berbagai teknologi tersebut, menurutnya, terus dikembangkan untuk mendapatkan solusi terbaik dalam mengatasi persoalan lingkungan termal di kawasan perkotaan.