Presiden Prabowo Subianto menggelar silaturahmi dengan para ulama dan tokoh organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis malam, 5 Maret 2026. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan menjadi ruang dialog antara pemerintah dan para ulama untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk dinamika geopolitik global serta langkah diplomasi Indonesia dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah.
Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal, Muhadjir Effendy, mengatakan Presiden Prabowo memaparkan alasan dan proses panjang di balik keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP). Menurut Muhadjir, Presiden menegaskan keputusan tersebut tidak diambil secara mendadak, melainkan melalui komunikasi intensif dengan sejumlah pemimpin negara di Timur Tengah, terutama kawasan Teluk.
“Jadi beliau menegaskan bahwa keterlibatan beliau di BoP itu tidak serta-merta, tetapi sudah melalui proses yang panjang, sudah dibicarakan dengan beberapa pimpinan negara yang ada di wilayah, terutama wilayah Teluk, yang kemudian sepakat untuk bergabung,” ujar Muhadjir.
Muhadjir menambahkan, Presiden Prabowo memilih strategi struggle from within, yakni memperjuangkan kepentingan perdamaian dari dalam forum tersebut. Ia menyebut langkah itu tetap berpegang pada prinsip konstitusi Indonesia dan komitmen terhadap solusi dua negara.
“Jadi setelah selama ini kita berada di luar, kita sekarang mencoba berjuang dari dalam. Dan insyaallah apa yang akan beliau lakukan nanti adalah tetap berada di dalam koridor konstitusi kita, terutama di dalam pembukaan undang-undang dasar kita, dan kemudian juga tetap berkomitmen kepada tujuan awal, yaitu terciptanya dua negara yang berkoeksistensi damai, yaitu negara merdeka Palestina dan Israel,” jelasnya.
Ia juga menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina tetap menjadi pegangan utama Indonesia. Muhadjir menyebut tujuan itu tercantum dalam perjanjian 20 poin, khususnya pada poin 19 dan poin 20, yang menegaskan arah BoP untuk mendorong terbentuknya negara Palestina yang berkoeksistensi dengan Israel.
“Karena itu, ke depan kita harus terus berupaya apapun resikonya, apapun konsekuensinya, ikhtiar untuk membangun Palestina merdeka itu harus terwujud. Dan itu tercantum di dalam perjanjian 20 poin, di poin 19 dan poin 20 itu tegas bahwa memang tujuan BoP itu adalah terciptanya negara Palestina, berkoeksistensi dengan Israel. Saya kira itu yang jadi pegangan kita, dengan demikian maka tadi para ulama, para tokoh-tokoh agama, semuanya sepakat dengan apa yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden,” lanjutnya.
Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid yang juga Ketua MUI Bidang Penanggulangan Bencana menyatakan pemerintah tetap terbuka terhadap berbagai pandangan masyarakat terkait keanggotaan Indonesia dalam forum tersebut. Namun, ia menegaskan diplomasi tetap menjadi jalan yang ditempuh Indonesia untuk mendorong perdamaian.
“Tapi kalau ada yang menyarankan seperti itu, pemerintah tidak anti kritik, kita mendengarkan sambil mencermati keadaan, tetapi kita akan membuktikan di lapangan bahwa diplomasi ini jalan terbaik untuk menciptakan perdamaian, bukan dengan jalan peperangan,” ucap Nusron.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menilai kehadiran Indonesia dalam forum itu dapat menjadi instrumen untuk mendorong deeskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ia juga menilai forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong langkah-langkah diplomatik menuju perdamaian.
“Kalau perlu misalnya Indonesia bisa menyatakan bahwa agenda-agenda BoP on hold sampai ada pembicaraan untuk deeskalasi dan perdamaian dari perang Amerika-Israel melawan Iran ini,” katanya.
Menurut Yahya, meskipun forum tersebut masih berada pada tahap awal pembicaraan, keterlibatan Indonesia bersama sejumlah negara Timur Tengah membuka peluang bagi upaya diplomasi perdamaian di kawasan.
“Semua itu nantinya akan bisa menjadi instrumen untuk menjadikan BoP ini justru wahana mendorong terjadinya deeskalasi dan perdamaian dari perang yang sekarang sedang terjadi terkait dengan Iran,” jelasnya.
Melalui forum silaturahmi itu, Presiden Prabowo juga menegaskan pentingnya menjaga komunikasi dan persatuan nasional dalam menyikapi berbagai dinamika global. Dialog bersama ulama dan tokoh ormas Islam tersebut diharapkan memperkuat dukungan moral dan diplomatik Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dunia, khususnya bagi kemerdekaan Palestina.

