BERITA TERKINI
Persaingan AS-China di Asia-Pasifik dan Upaya Mencegah Konflik Terbuka

Persaingan AS-China di Asia-Pasifik dan Upaya Mencegah Konflik Terbuka

Persaingan kekuatan besar menjadi realitas yang sulit dihindari dalam politik global. Tantangan utamanya kini adalah bagaimana mengelola persaingan itu agar tidak berkembang menjadi perang terbuka.

Dalam beberapa tahun terakhir, rivalitas Amerika Serikat (AS) dan China menonjol sebagai isu utama dunia dan diperkirakan akan terus berlanjut. Dampaknya merambah berbagai sektor, mulai dari pertahanan, hubungan internasional, ekonomi, hingga teknologi. Kawasan Asia-Pasifik pun menjadi salah satu arena utama persaingan tersebut.

Shangri-La Dialogue di tengah ketegangan

Di tengah dinamika itu, International Institute for Strategic Studies (IISS) menggelar Shangri-La Dialogue di Singapura pada 10–12 Juni 2022. Forum ini menghadirkan para menteri pertahanan negara-negara Asia untuk menyampaikan pandangan terbaru mengenai tantangan keamanan yang tak terlepas dari persaingan AS-China.

Sejumlah tokoh kunci hadir, termasuk Menteri Pertahanan China Wei Fenghe dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin. Hadir pula Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi serta Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto.

Kehadiran para pengambil kebijakan tersebut dipandang sebagai sinyal kuat bahwa dialog tetap diutamakan. Para pemimpin menekankan pentingnya menjaga komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman maupun kekeliruan kalkulasi yang dapat memperburuk situasi.

Pandangan AS dan China soal Indo-Pasifik dan Taiwan

Dalam pertemuan itu, Lloyd Austin menegaskan kebijakan luar negeri AS yang menempatkan Asia sebagai medan penting persaingan dengan China, sekaligus menekankan fokus Washington terhadap kawasan tersebut. Austin juga menyoroti China yang dinilai provokatif dalam isu Taiwan, meski AS menyatakan tetap tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. "Kami telah menyaksikan peningkatan aktivitas militer (yang) provokatif dan tindakan destabilisasi di dekat Taiwan," kata Austin, seperti dikutip Kompas, Minggu (12/6/2022).

Di sisi lain, Wei Fenghe menuding Washington membuat situasi Indo-Pasifik memanas melalui pembentukan kelompok eksklusif negara-negara pro-AS. Wei juga mengingatkan bahwa China akan bertindak keras jika ada upaya mendukung kemerdekaan Taiwan, karena Beijing memandang Taiwan sebagai bagian integral dari China.

Posisi Indonesia dan ASEAN: mengelola realitas persaingan

Di tengah persaingan tersebut, Indonesia bersama ASEAN dan negara-negara Asia lainnya dinilai perlu bersikap bijak dalam mengelola situasi. Prabowo menyampaikan bahwa persaingan kekuatan besar di Asia telah berlangsung lama. Ia menilai, kurang lebih 50 tahun terakhir, Asia mampu menjaga perdamaian di tengah persaingan kekuatan utama dengan caranya sendiri.

Prabowo juga menyatakan keyakinannya bahwa negara-negara besar yang bersaing memiliki moral dan tanggung jawab. Ia menyinggung hubungan historis yang bersahabat dengan Indonesia, termasuk AS yang disebut pro-kemerdekaan Republik Indonesia serta China yang dinilai pernah senasib seperjuangan dalam membendung intervensi asing pada masa silam.

Komunikasi dan dialog sebagai pencegahan

Artikel ini menekankan bahwa menjaga komunikasi tetap menjadi langkah krusial untuk menopang perdamaian. Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara disebut bukan kali pertama menghadapi persaingan kekuatan besar. Kebersamaan dan dialog yang dilakukan secara terus-menerus dinilai dapat menjadi dasar kuat untuk mencegah rivalitas berkembang menjadi konflik terbuka.

  • Persaingan AS-China berdampak luas pada pertahanan, ekonomi, dan teknologi.
  • Shangri-La Dialogue menjadi ruang penyampaian pandangan sekaligus menjaga komunikasi.
  • Isu Taiwan kembali menjadi salah satu titik utama perbedaan sikap AS dan China.
  • Indonesia dan ASEAN didorong mengelola realitas persaingan melalui dialog berkelanjutan.