Perang dagang antara China dan Amerika Serikat dinilai dapat menjadi momentum bagi Indonesia dan Korea Selatan untuk mempererat hubungan diplomatik sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi jangka panjang. Penilaian itu muncul di tengah dinamika global yang disebut semakin tidak pasti, termasuk dampaknya terhadap tarif impor dan potensi perubahan rantai pasok.
Peneliti Overseas Economic Research Institute di Export-Import Bank of Korea, Jihyouk Lee, mengatakan rivalitas AS dan China ikut memengaruhi lanskap perdagangan global. Menurut dia, situasi tersebut dapat dimanfaatkan Korea Selatan dan Indonesia untuk beralih dari kerja sama yang bersifat sesaat menjadi strategi jangka panjang.
“Bagi Korea dan Indonesia, ini adalah momen untuk beralih dari kesepakatan sekali waktu ke strategi jangka panjang,” ujar Lee dalam diskusi Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bertajuk Apec at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth, Senin (13/10).
Diskusi tersebut merupakan bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation. Lee menilai dalam kondisi global yang dinamis, pemerintah dan pelaku usaha dituntut adaptif agar tetap kompetitif, termasuk di Indonesia dan Korea Selatan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ruang kerja sama dengan banyak mitra. Lee menyinggung prinsip politik luar negeri Indonesia yang “bebas dan aktif” serta peran Indonesia dalam gerakan non-blok.
Lee melihat sejumlah sektor yang dinilai menjanjikan untuk dikembangkan bersama, antara lain industri kendaraan bertenaga listrik (EV), mineral penting, industri pertahanan, serta teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Menurut dia, kedua negara memiliki potensi untuk saling melengkapi, dengan Korea Selatan memiliki teknologi dan Indonesia memiliki sumber daya serta potensi industri.
“Dengan menggabungkan teknologi dan modal Korea dengan sumber daya dan potensi industri di Indonesia, kita dapat beralih dari proyek-proyek terisolasi ke peta jalan strategi bersama untuk pertumbuhan regional,” katanya.
Lee menambahkan, Indonesia saat ini menjadi salah satu mitra terdekat Korea Selatan dalam program Economic Development Cooperation Fund (EDCF). EDCF didirikan pada 1987 sebagai lembaga khusus yang didanai Pemerintah Korea Selatan untuk berkontribusi pada stabilitas ekonomi dan pembangunan industri negara berkembang serta meningkatkan kerja sama.
Menurut Lee, pada 2021 Korea Selatan meningkatkan batas pinjaman EDCF menjadi US$1,5 miliar untuk periode 2022–2026. Fokus pendanaan diarahkan pada energi hijau, transformasi digital, dan layanan kesehatan yang disebut sebagai sektor kunci dalam tujuan pembangunan Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Tirta Nugraha Mursita, menyatakan Korea Selatan merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di sektor investasi. Ia menyebut Korea menempati peringkat ketujuh sebagai negara dengan total foreign direct investment (FDI) terbesar di Indonesia.
“Investasi Korea telah memainkan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian Indonesia,” kata Tirta.
Tirta menyebut realisasi investasi Korea Selatan di Indonesia pada 2020 hingga 2024 mencapai US$11,3 miliar atau sekitar Rp185 triliun. Ia menjelaskan nilai investasi sempat menurun pada 2021, namun kembali meningkat pada 2022 hingga 2024.
Meski berada di peringkat ketujuh, Tirta menilai investasi Korea tersebar di sektor listrik, gas, air, otomotif, mesin, dan elektronik, dengan kecenderungan fokus pada industri hilir. Ia menilai investasi tersebut tidak hanya berupa modal, tetapi juga mencakup transfer teknologi dan kompetensi.
Ia menambahkan, perusahaan Korea Selatan juga terlibat dalam pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik di Indonesia. Namun, Tirta mengakui pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan investasi asing, terutama terkait pembangunan infrastruktur di sejumlah wilayah.
“Kita perlu membangun kembali infrastruktur yang memadai di Sumatra, Kalimantan, Papua, Maluku, dan wilayah lain di negara kita,” ujarnya.

