Konflik bersenjata antara Amerika Serikat–Israel dan Iran terus meningkat dan belum menunjukkan tanda mereda. Memasuki pekan ketiga sejak pecah pada akhir Februari 2026, serangan balasan dilaporkan semakin intens, menyasar elite keamanan, infrastruktur energi, hingga area sipil, sementara upaya diplomasi internasional disebut kian minim terdengar.
Ketegangan terbaru muncul setelah Israel mengklaim telah menewaskan pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani, dalam serangan udara. Menurut laporan Reuters, Israel menyebut operasi tersebut bagian dari upaya melumpuhkan struktur keamanan Iran, meski pihak Teheran belum mengonfirmasi klaim kematian itu.
AP News juga melaporkan serangan Israel menargetkan petinggi milisi Basij. Situasi ini disebut memperdalam krisis kepemimpinan Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas pada awal konflik. Sebagai balasan, Iran meningkatkan serangan drone dan rudal ke sejumlah titik strategis di kawasan Teluk. Serangan tersebut dilaporkan sempat memaksa penutupan wilayah udara Uni Emirat Arab dan mengganggu jalur penerbangan internasional.
Data terbaru menunjukkan korban jiwa terus bertambah. Sejak perang dimulai pada 28 Februari, lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas di Iran, dengan sebagian di antaranya disebut anak-anak. Puluhan ribu lainnya dilaporkan luka-luka, sementara korban juga dilaporkan jatuh di Israel dan negara-negara Teluk.
The Guardian melaporkan konflik kini meluas hingga Lebanon dan Irak, serta menjangkau jalur laut strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute penting distribusi energi dunia. Di wilayah ini, Iran dituding melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang, yang disebut menyebabkan lalu lintas tanker turun drastis dan memicu lonjakan harga minyak global hingga menembus USD 100 per barel.
Di tengah eskalasi, sinyal menuju perundingan disebut masih lemah. Iran secara terbuka menolak negosiasi maupun gencatan senjata. Dari pihak Israel, Reuters melaporkan pemerintah Israel menyatakan perang akan berlanjut hingga mereka—bersama Amerika Serikat—menentukan waktu yang tepat untuk berhenti, tanpa batas waktu yang jelas.
Sejumlah negara Eropa menyerukan solusi diplomatik, namun hingga kini belum ada inisiatif konkret yang dilaporkan mampu menahan eskalasi. Dampak konflik juga disebut meluas ke tingkat global, mulai dari gangguan penerbangan internasional akibat penutupan wilayah udara, lonjakan harga minyak karena gangguan pasokan, hingga gejolak pasar keuangan. Sejumlah negara Teluk juga dilaporkan mulai mengevaluasi investasi bernilai besar seiring meningkatnya risiko geopolitik di kawasan.
Perang yang semula dipandang sebagai konflik dua pihak kini disebut berkembang menjadi krisis regional dengan dampak global. Ketika serangan terus meningkat dan korban terus berjatuhan, pertanyaan mengenai kemampuan komunitas internasional untuk menghentikan perang kembali mengemuka.

