BERITA TERKINI
Peran Jaringan Internet Dalam Mendukung Program Asta Cita Pemerintah Prabowo di Sektor Pendidikan Dasar dan Menengah

Peran Jaringan Internet Dalam Mendukung Program Asta Cita Pemerintah Prabowo di Sektor Pendidikan Dasar dan Menengah

Oleh M. Abriyanto, wartawan dan pemerhati pendidikan

 

GLOBEVERSEINSIGHT.COM - Di sebuah pagi yang tenang di pelosok Nusantara, seorang guru berdiri di depan kelas dengan papan tulis yang mulai kusam. Ia menjelaskan pelajaran dengan penuh dedikasi, sementara murid-muridnya menyimak dengan saksama.

Jauh di kota besar, pada waktu yang sama, siswa lain belajar melalui layar digital, mengakses video interaktif, bahkan berdialog dengan pengajar dari luar negeri. Dua potret ini sama-sama Indonesia—namun dipisahkan oleh satu jurang besar: akses terhadap infrastruktur internet yang andal dan terjangkau.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa pendidikan hari ini tidak lagi hanya soal gedung, buku, atau kurikulum. Ada satu elemen baru yang diam-diam menjadi penentu kualitas: jaringan internet.

 

Ketika Internet Menjadi Bagian dari Proses Belajar

Perubahan cara belajar terjadi pelan, tetapi pasti. Internet bukan lagi sekadar alat bantu; ia telah menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri.

Dengan koneksi yang baik: guru tidak lagi terbatas pada buku teks, siswa bisa mengulang pelajaran kapan saja, dan materi dari seluruh dunia terbuka tanpa batas.

Pembelajaran menjadi lebih hidup, lebih fleksibel, dan lebih relevan dengan zaman. Namun sebaliknya, tanpa internet yang stabil, semua gagasan tentang digitalisasi pendidikan akan berhenti sebagai konsep.

Di titik ini, kita melihat bahwa internet bukan hanya teknologi—ia adalah alat pemerataan kesempatan.

 

Asta Cita Pemerintah Prabowo: Pendidikan sebagai Fondasi Masa Depan

Dalam kerangka pembangunan nasional, pemerintahan Prabowo Subianto menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama melalui program Asta Cita. Jika dibaca secara utuh, arah kebijakan ini tidak sekadar ingin “memperbaiki sekolah”, tetapi mentransformasi pengalaman belajar.

Komitmen itu terlihat dari target besar yang dicanangkan pemerintahan Prabowo: memperbaiki seluruh sekolah di Indonesia secara bertahap hingga tuntas pada 2028. Dari sekitar 288 ribu sekolah, puluhan ribu ditargetkan selesai setiap tahun hingga semua bangunan pendidikan berada dalam kondisi layak.

Presiden Prabowo Subianto berjanji tentang komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan nasional, akan memperbaiki seluruh sekolah di Indonesia secara bertahap hingga tuntas pada 2028.

Saat meninjau SMAN 1 Cilacap, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada 29 April 2026, Kepala Negara mengatakan, “Saya berharap semua sekolah akan selesai di tahun 2028. Kita kalau tidak salah punya 288 ribu sekolah. Kalau tahun ini berarti 87 ribu akan selesai akhir tahun, berarti kita masih punya 200 ribu. Kalau 100 ribu 2027, 100 ribu 2028 semua sekolah Indonesia sudah diperbaiki.”

Namun demikian, upaya pemerintah Prabowo tidak akan berhenti hanya pada perbaikan fisik bangunan. Presiden Prabowo menaruh perhatian besar pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi digital di ruang kelas.

“Saya tidak mau berhenti di situ. Sekolah yang sudah diperbaiki pun harus kita tambah kualitasnya. Saya ingin semua ruang kelas punya layar digital, smart classroom. Sekarang baru satu per sekolah ya? Ada yang dua,” katanya.

 

Konsep Smart Classroom

Untuk mendukung hal tersebut, Kepala Negara pun menargetkan penambahan perangkat pembelajaran digital di setiap sekolah. “Berarti target kita masih tiap sekolah mungkin 3, 4 lagi. Tahun ini kita perjuangkan 3 tambahan ke seluruh Indonesia. Dengan demikian interaktif, silabus-silabus ada di software membantu semua,” tambahnya.

Namun yang menarik, visi ini tidak berhenti pada fisik. Presiden Prabowo secara eksplisit menegaskan bahwa perbaikan gedung hanyalah langkah awal. Yang ingin dibangun berikutnya adalah kualitas pembelajaran.

Di sinilah konsep smart classroom menjadi penting. Setiap ruang kelas diharapkan: memiliki layar digital, dilengkapi materi pembelajaran berbasis software, dan memungkinkan interaksi yang lebih dinamis.

Bayangkan suasana belajar di mana guru tidak lagi hanya menulis di papan, tetapi menampilkan simulasi, video, dan materi interaktif yang bisa diulang kapan saja oleh siswa.

Lebih jauh lagi, pemerintah merancang pengembangan studio pembelajaran terpusat. Dari satu titik, pengajar terbaik—bahkan penutur asli untuk bahasa asing—dapat mengajar ribuan siswa di berbagai daerah secara bersamaan.

Ini bukan sekadar efisiensi. Ini adalah cara baru untuk: menyebarkan kualitas pengajaran terbaik, memperkecil kesenjangan antarwilayah, dan memperkenalkan standar pendidikan global sejak dini.

Dalam konteks Asta Cita, arah ini jelas: pendidikan dasar dan menengah tidak hanya harus merata, tetapi juga harus relevan dengan dunia modern.

 

Internet: Tulang Punggung yang Tak Terlihat

Semua rencana pemerintah Prabowo itu, betapapun ambisius dan visioner, bergantung pada satu fondasi yang sering luput dari perhatian: koneksi internet. Smart classroom tanpa internet adalah layar mati. Studio pembelajaran tanpa jaringan adalah siaran tanpa penonton.

Dengan kata lain, internet adalah tulang punggung yang menopang seluruh transformasi ini. Namun di Indonesia, tulang punggung itu belum sepenuhnya kuat.

Membangun jaringan internet di Indonesia tidak semudah menarik kabel di satu kota. Negara ini adalah kepulauan luas dengan kondisi geografis yang beragam—dari pegunungan, hutan, hingga pulau-pulau kecil yang terpencar.

Tantangan yang muncul bukan hanya teknis, tetapi juga struktural. Di banyak daerah: sinyal masih lemah atau tidak stabil, biaya pembangunan infrastruktur sangat tinggi, listrik belum sepenuhnya andal, sementara perangkat pendukung terbatas.

Akibatnya, kesenjangan tetap terasa. Program digital berjalan cepat di kota, tetapi tertatih di wilayah terpencil dan terluar.

Di sinilah paradoks muncul: ketika teknologi justru berpotensi memperlebar jurang jika tidak diiringi pemerataan akses.

 

Langkah Pemerintah Prabowo: Membangun dari Dasar

Pemerintah sebenarnya telah memulai berbagai upaya untuk menjawab tantangan ini.

Pembangunan jaringan tulang punggung nasional melalui proyek seperti Palapa Ring menjadi langkah penting dalam menghubungkan wilayah Indonesia. Jaringan ini membuka akses ke daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi secara digital.

Selain itu, peluncuran satelit internet seperti SATRIA diarahkan khusus untuk menjangkau wilayah 3T—tempat di mana jaringan kabel sulit dibangun.

Di sisi lain, program digitalisasi sekolah terus berjalan, seperti: penyediaan perangkat teknologi, pengembangan platform pembelajaran, dan pelatihan guru untuk adaptasi digital.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak dilakukan secara parsial, melainkan bertahap dan sistemik.

Namun pekerjaan belum selesai. Tantangan ke depan tidak lagi sekadar menghadirkan internet, tetapi memastikan kualitasnya.

Internet untuk pendidikan harus: stabil, cukup cepat untuk video dan interaksi real-time, dan terjangkau bagi sekolah. Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi simbol, bukan solusi.

 

Penutup: Menyatukan Ruang Kelas Indonesia

Jika kita kembali ke dua potret di awal—kelas di pelosok dan kelas di kota—maka pertanyaannya sederhana: apakah keduanya akan terus berbeda?

Asta Cita memberi harapan bahwa jawabannya adalah tidak.

Dengan perbaikan fisik sekolah, penguatan kualitas pembelajaran, dan integrasi teknologi, Indonesia sedang berusaha membangun sistem pendidikan yang lebih adil. Namun keberhasilan itu pada akhirnya bergantung pada satu hal mendasar: kemampuan menghadirkan internet yang benar-benar merata.

Karena di masa depan, pendidikan bukan lagi soal di mana seorang anak belajar, tetapi apakah ia terhubung.

Dan ketika seluruh ruang kelas di Indonesia terhubung dalam satu jaringan pengetahuan yang sama, saat itulah kita benar-benar mulai berbicara tentang kesetaraan pendidikan.

 

Jakarta, 30 April 2026