BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Guncang Pasar Gas: Produksi Qatar Tersendat, Eropa Hadapi Risiko Harga Tinggi hingga 2026

Penutupan Selat Hormuz Guncang Pasar Gas: Produksi Qatar Tersendat, Eropa Hadapi Risiko Harga Tinggi hingga 2026

Penutupan Selat Hormuz memicu salah satu guncangan terbesar di pasar gas global dalam beberapa tahun terakhir. Harga gas di Eropa dan Asia dilaporkan melonjak lebih dari 70%, dan sejumlah analis menilai tekanan harga bisa berlanjut.

Sejumlah pakar yang dihubungi BeInCrypto memperingatkan bahwa harga gas yang tinggi berpotensi bertahan hingga 2026. Bagi industri Eropa, kondisi tersebut dinilai dapat memicu gelombang deindustrialisasi baru akibat biaya energi dan produksi yang meningkat.

Qatar menghentikan produksi

Qatar disebut menjadi salah satu pihak yang paling terdampak dalam krisis ini. Igor Yushkov, analis utama di National Energy Security Fund sekaligus pakar di Financial University di bawah Pemerintah Federasi Rusia, mengatakan Qatar terpaksa menghentikan produksi gas karena tidak tersedia tempat penampungan.

Menurut Yushkov, Qatar tidak memiliki fasilitas penyimpanan bawah tanah. Menyimpan gas dalam bentuk cair juga dinilai tidak efisien karena memerlukan suhu sangat rendah, sekitar -162°C, yang membutuhkan energi besar.

Penghentian produksi gas turut menghentikan pasokan produk terkait, termasuk kondensat gas, helium, propana, butana, dan etana. Yushkov menyebut harga helium sudah naik dua kali lipat, sementara Qatar merupakan produsen helium terbesar kedua di dunia. Ia juga mengatakan sektor gas-kimia ikut terhenti, termasuk produksi pupuk.

Yushkov menilai pemulihan kapasitas produksi gas Qatar bisa memakan waktu lebih lama dibanding produsen minyak di kawasan yang masih dapat menampung minyak dan kembali mengekspor lebih cepat setelah selat dibuka. Ia memperkirakan fasilitas yang tidak rusak setidaknya memerlukan dua minggu untuk kembali ke kapasitas penuh, sedangkan fasilitas yang mengalami kerusakan bisa membutuhkan perbaikan selama berbulan-bulan.

Efek merambat ke Eropa

Sekitar 80% LNG Qatar biasanya mengalir ke pasar Asia. Namun Yushkov menilai pasar gas Asia dan Eropa saling terhubung, sehingga kenaikan harga cenderung terjadi secara merata di berbagai wilayah.

Faktor musiman juga disebut memperburuk situasi. Yushkov menyatakan saat ini sudah mendekati akhir musim dingin, sehingga sisa gas di penyimpanan bawah tanah menipis dan negara-negara perlu membeli gas untuk pengisian ulang pada saat harga sedang tinggi. Ia menambahkan, semakin lama pembelian ditunda dengan harapan harga turun atau Selat Hormuz kembali dibuka, semakin besar volume yang harus dibeli dan diinjeksi per hari pada tahap berikutnya.

Kirill Bakhtin, kepala pusat analitik saham Rusia di BCS World of Investments, juga menilai risiko kenaikan harga berjangka dapat meluas. Ia menyebut jika konflik berlangsung lebih dari beberapa bulan, proyeksi harga gas berpotensi naik bukan hanya untuk 2026, tetapi juga 2027, terutama karena tingkat pengisian penyimpanan bawah tanah di negara konsumen masih rendah.

Yushkov menilai dampak bagi industri Eropa bisa bersifat sistemik. Menurutnya, harga gas yang tinggi akan mendorong kenaikan biaya listrik, pemanas, dan berbagai produk turunan gas. Kondisi tersebut dapat membuat barang yang diproduksi di Eropa—khususnya yang sangat bergantung pada gas—menjadi kurang kompetitif di pasar global, sehingga Eropa berisiko memasuki babak deindustrialisasi baru.

Pernyataan Rusia dan ketegangan pasar

Di tengah ketegangan pasar gas, presiden Rusia mengusulkan agar Rusia mempertimbangkan menarik LNG dari pasar Eropa. Yushkov menilai pernyataan itu muncul pada momen yang strategis karena sentimen pasar Eropa sudah tegang. Ia menambahkan bahwa ancaman penghentian pasokan LNG berpotensi mengguncang pasar, mengingat Rusia disebut sebagai pemasok LNG terbesar kedua di dunia.

Eropa menargetkan penyimpanan gas terisi penuh pada 1 Januari 2027, bertepatan dengan rencana dimulainya larangan impor LNG Rusia. Namun, menurut Yushkov, rencana tersebut kini terancam bahkan sejak tahap persiapan menghadapi musim dingin.

Yushkov juga menyoroti fleksibilitas LNG dibanding gas pipa. Menurutnya, LNG lebih mudah dialihkan ke pasar lain, seperti ke Asia—ke India saat musim panas, lalu ke China melalui Northern Sea Route. Sementara itu, gas pipa tidak dapat dialihkan dengan cepat; ketika pasokan ke Eropa berhenti, produksi cenderung dibatasi, yang dinilainya berdampak buruk bagi anggaran. Meski demikian, ia menambahkan keputusan final untuk keluar dari pasar Eropa belum diambil.

Implikasi bagi investor

Di tengah dinamika tersebut, Bakhtin menyoroti pergeseran potensi di antara perusahaan gas Rusia. Ia menilai saham NOVATEK, dari sisi potensi pengembangan suplai Arctic LNG 2 untuk jangka menengah, terlihat lebih menarik dibanding saham Gazprom yang berpotensi kehilangan pasar Uni Eropa pada akhir 2027.

Namun untuk horizon satu tahun ke depan, ia menyebut pendekatan analis tetap berhati-hati. Dalam skenario dasar BCS World of Investments, pandangan terhadap saham NOVATEK masih berada pada posisi netral.