BERITA TERKINI
Pentagon Pertimbangkan Alihkan Patriot dan THAAD ke Asia Barat, Sekutu Eropa dan Asia Timur Khawatir Celah Pertahanan

Pentagon Pertimbangkan Alihkan Patriot dan THAAD ke Asia Barat, Sekutu Eropa dan Asia Timur Khawatir Celah Pertahanan

WASHINGTON—Pentagon disebut mempertimbangkan pengalihan sebagian senjata Amerika Serikat (AS) yang selama ini terkait dukungan untuk Ukraina, termasuk pencegat rudal Patriot, ke Asia Barat. Langkah itu dipertimbangkan untuk mengisi kembali amunisi serta memperkuat pertahanan udara yang terkuras akibat perang Amerika-Israel melawan Iran, menurut tiga orang yang mengetahui perkembangan tersebut.

Kepala Komando Pusat (CENTCOM) AS, Laksamana Brad Cooper, mengatakan pasukan AS telah menyerang lebih dari 10.000 target di seluruh Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Pemindahan sistem senjata dari Eropa Timur dan lokasi lain, termasuk relokasi baterai Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defence) dari Korea Selatan, dinilai berpotensi menciptakan celah dalam jaringan pertahanan udara terhadap kemungkinan ancaman Rusia dan China. Dalam situasi ini, sekutu AS di Eropa dan Asia Timur dikhawatirkan menjadi lebih rentan terhadap Moskow dan Beijing.

Selain itu, dua baterai Patriot dilaporkan dipindahkan dari Jerman untuk memperkuat perbatasan selatan Turki setelah rudal Iran yang menargetkan provinsi Adana, Hatay, dan Gaziantep berhasil dicegat.

Keputusan akhir juga belum diambil terkait PURL (Daftar Prioritas Kebutuhan Ukraina), mekanisme sementara yang memungkinkan anggota NATO membeli sejumlah peralatan militer terbatas dari AS untuk kemudian ditransfer ke Kyiv.

Pertimbangan pengalihan senjata dari Ukraina—yang masih terlibat dalam perang yang telah berlangsung empat tahun—menyoroti kekhawatiran tentang terkurasnya persediaan amunisi AS seiring intensitas operasi militer terhadap Iran. Dalam laporan yang sama, disebutkan Presiden AS Donald Trump mengklaim perang tersebut dapat diakhiri dalam 24 jam.

Kekhawatiran paling nyata datang dari sekutu Eropa. Tingkat penggunaan yang cepat, sebagaimana dilaporkan The Washington Post, memicu pertanyaan apakah Washington akan menghabiskan stoknya dan menunda atau mengganggu pesanan sekutu, sehingga mengurangi lapisan pertahanan udara ketika gelombang serangan Rusia berikutnya terjadi.

“Sekarang ada pertanyaan tentang berapa banyak yang akan terus mereka berikan melalui kesepakatan (PURL),” kata dua diplomat Eropa kepada The Washington Post dengan syarat anonim, Jumat (27/3/2026).

Sementara itu, seorang pejabat NATO mengatakan kepada Reuters bahwa blok tersebut tetap berkontribusi pada program itu. “Peralatan terus mengalir ke Ukraina (dan) kami mengharapkan lebih banyak lagi yang akan menyusul,” ujarnya.