BERITA TERKINI
Pengamat UI: Diplomasi Nuklir Iran-AS Mulai Membaik, Indonesia Diminta Waspadai Dampak Energi

Pengamat UI: Diplomasi Nuklir Iran-AS Mulai Membaik, Indonesia Diminta Waspadai Dampak Energi

JAKARTA — Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, menilai Indonesia perlu mencermati perkembangan diplomasi terkait isu nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan arah positif.

Menurut Syaroni, pembicaraan yang difasilitasi dan dimediasi oleh Oman mengindikasikan adanya titik temu di antara kedua pihak. Ia menilai kondisi tersebut dapat membantu mencegah krisis militer dalam waktu tertentu, sehingga potensi serangan militer oleh AS tidak menjadi opsi utama.

Meski begitu, Syaroni mengingatkan bahwa konflik atau ketegangan yang melibatkan negara kunci seperti Iran tetap berpotensi menimbulkan dampak luas, termasuk bagi Indonesia. Ia menyebut Iran berada di jalur strategis suplai minyak global dari Timur Tengah ke AS, Eropa, dan Asia, terutama melalui Selat Hormuz.

Ia menjelaskan, pengalaman sebelumnya menunjukkan peningkatan ketegangan di kawasan dapat mengganggu arus pelayaran dan distribusi minyak dunia, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga energi global. Syaroni mencontohkan situasi tahun lalu ketika serangan AS ke Iran disebut membuat Selat Hormuz terhenti.

Bagi Indonesia, kondisi di Timur Tengah dinilai memiliki implikasi langsung karena sebagian impor minyak dan gas nasional masih bergantung pada pasokan dari kawasan tersebut. Jika terjadi gangguan suplai, kata Syaroni, harga berpotensi meningkat dan dapat menambah tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Karena itu, meski diplomasi Iran-AS dinilai membawa harapan bagi stabilitas kawasan, Syaroni menekankan pemerintah Indonesia tetap perlu memantau dinamika geopolitik global serta menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketahanan energi.