Pemerintah Indonesia disebut merombak pendekatan komunikasi dalam melobi investor global, dengan beralih dari pola reaktif menjadi komunikasi proaktif. Perubahan taktik ini ditujukan untuk meluruskan narasi pasar yang dinilai kerap tidak sejalan dengan kondisi di dalam negeri, sekaligus mengamankan masuknya investasi asing.
Langkah tersebut tercermin dari pertemuan pemerintah dengan perusahaan pengelola aset BlackRock di New York, Amerika Serikat. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai manuver ini sebagai strategi untuk mengendalikan ekspektasi pasar internasional, dengan pola “jemput bola” yang menurutnya meniru pendekatan institusi keuangan besar seperti Goldman Sachs.
Menurut Fakhrul, komunikasi langsung dapat membantu menutup kesenjangan persepsi antara pandangan investor luar dan realitas domestik. Namun ia menegaskan, strategi komunikasi tidak dapat menggantikan kekuatan fundamental ekonomi. “Pendekatan langsung efektif untuk memperbaiki narrative gap. Namun, ini bukan pengganti fundamental. Konsistensi kebijakan dan eksekusi di lapangan tetap menjadi kunci,” kata Fakhrul, dikutip dari Info Publik, Kamis (16/4/2026).
Di sisi pasar, respons terlihat dari meningkatnya permintaan Surat Berharga Negara (SBN) yang disebut mencapai Rp78,44 triliun. Arus tersebut terjadi setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mendorong kembalinya minat investor pada instrumen di pasar negara berkembang.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan fase “risk-on” di pasar global, tetapi perlu dibedakan antara sentimen jangka pendek dan kepercayaan yang bersifat struktural. “Momentum ini harus dimanfaatkan untuk menarik sticky capital melalui reformasi berkelanjutan dan pendalaman pasar keuangan,” ujarnya.
Terkait prospek pertumbuhan, Fakhrul menilai target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5 persen pada kuartal pertama 2026 masih realistis. Ia menyoroti pelonggaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai mempercepat belanja negara, sehingga aktivitas ekonomi berangsur pulih seiring tren positif penjualan ritel dan kinerja manufaktur.
Namun, ia menekankan bahwa menjaga kepercayaan investor global membutuhkan lebih dari sekadar perbaikan komunikasi. Pemerintah diminta memastikan kredibilitas kebijakan agar selaras dengan kondisi nyata di lapangan. “Persepsi memang penting dalam jangka pendek. Namun pada akhirnya, pasar akan kembali pada realita. Kredibilitas kebijakan dan kekuatan fundamental domestik akan menjadi penentu utama,” kata Fakhrul.