BERITA TERKINI
PBNU: Lahirnya NU Tak Lepas dari Runtuhnya Kepemimpinan Islam Global dan Perubahan Dunia

PBNU: Lahirnya NU Tak Lepas dari Runtuhnya Kepemimpinan Islam Global dan Perubahan Dunia

Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Aunullah A'la Habib (Gus Aun) menyampaikan bahwa kelahiran Nahdlatul Ulama (NU) tidak terlepas dari peristiwa besar di tingkat internasional. Menurutnya, kepemimpinan umat Islam yang dinilai telah mapan selama sekitar 1.300 tahun mengalami keruntuhan yang kemudian menandai munculnya tatanan baru berupa negara-bangsa (nation state).

Pernyataan itu disampaikan Gus Aun dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XXII NU Boyolali bertajuk “Mendampingi Umat, Memenangi Masa Depan” yang digelar di Boyolali, Sabtu (9/3/2024).

Runtuhnya Turki Utsmani dan dampaknya

Gus Aun menjelaskan, Turki Utsmani sebagai kepemimpinan besar dalam Islam yang berkuasa hampir 700 tahun runtuh. Ia menilai keruntuhan itu bukan hanya terjadi pada aspek administrasi, politik, dan kekuasaan, tetapi juga berdampak pada otoritas keulamaan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), karena Turki Utsmani disebut sebagai representasi Aswaja.

Ia menambahkan, meski Hindia Belanda (Indonesia) saat itu bukan wilayah Turki Utsmani, pengaruh otoritas keulamaan Aswaja tetap sampai ke Indonesia. Ulama Turki pada masa itu disebut menjadi rujukan (maraji) bagi ulama Indonesia dalam menyelesaikan persoalan kemasyarakatan.

Isyarah menjelang kelahiran NU

Menjelang lahirnya NU, Gus Aun menyebut KH Khalil Bangkalan mendapat tugas atau merasa perlu meminta petunjuk kepada Allah Swt dan memperoleh isyarah, salah satunya melalui Surat As Shaf ayat 8. Dalam pandangannya, ayat tersebut relevan menggambarkan situasi saat itu ketika Islam mengalami kekalahan besar, yang kemudian menjadi embrio kelahiran NU.

Gus Aun juga menyinggung sosok Kiai Ridwan Abdullah yang bertugas membuat logo NU. Ia menyampaikan bahwa Kiai Ridwan Abdullah melakukan tirakat dan riyadhah hingga memperoleh petunjuk melalui mimpi, yakni melihat bola dunia di atas langit.

Peran NU dalam berbagai dimensi

Gus Aun menilai hal tersebut sejalan dengan perkembangan NU yang bergerak dalam berbagai dimensi kehidupan, mulai dari menjaga dan melestarikan Aswaja, berjuang menuju kemerdekaan, hingga menjaga keutuhan bangsa dalam realitas masyarakat yang majemuk.

Ia juga menegaskan komitmen NU dalam mengisi kemerdekaan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Mengisi kemerdekaan, teguh, dan terus menjaga NKRI, karena bagi NU, NKRI harga mati,” ujarnya.

Tantangan perubahan global

Gus Aun mengingatkan bahwa dunia saat ini mengalami perubahan besar yang ia rangkum menjadi empat hal:

  • Perubahan tatanan politik internasional
  • Perubahan prinsip kewarganegaraan
  • Perubahan norma kepatutan
  • Perubahan dunia akibat globalisasi

Ia menyebut perubahan tersebut menjadi tantangan yang dihadapi NU dari tingkat PBNU hingga ranting.

PBNU: NU menunjukkan kematangan kontribusi bagi Indonesia

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PBNU Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK) KH Hasanuddin Ali menyatakan NU yang telah berusia 101 tahun menunjukkan kematangan kiprahnya bagi Republik Indonesia. Ia menilai NU tidak pernah lepas dari kontribusi terhadap Indonesia dalam berbagai situasi.

Ia menyebut kontribusi tokoh-tokoh NU sebelum kemerdekaan, termasuk keterlibatan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Pada era orde lama, ia menyampaikan NU menjadi salah satu faktor utama dalam konflik melawan agresi Belanda melalui resolusi jihad. Sementara pada era orde baru, ia menekankan keberpihakan NU terhadap ideologi negara Pancasila, dan pada era reformasi dinilai tetap berlanjut.

Tiga penekanan menghadapi tantangan zaman

Ia menekankan tiga hal untuk menjawab tantangan zaman, yakni kohesifitas dan koherensi, militansi, serta melayani umat. Kohesifitas dimaknai sebagai soliditas internal, sedangkan koherensi berarti keselarasan gerak dari PCNU dengan PBNU, PWNU hingga ranting.

Selain itu, ia menekankan pentingnya militansi NU di semua level untuk bergerak bersama mendampingi umat, serta memastikan jamiyah dibentuk untuk melayani kebutuhan umat atau jamaah.

Hasil Konfercab NU Boyolali

Konfercab yang digelar di NU Center Boyolali menetapkan KH Ahmad Harir dan KH Iqbal Mulyanto sebagai Rais dan Ketua terpilih untuk masa khidmat 2024–2029.