Pasar keuangan Indonesia kembali dibuka setelah libur Tahun Baru 2026. Perdagangan pada Jumat (2/1/2026) menjadi sesi pertama pasar keuangan domestik di tahun 2026, setelah pada penutupan perdagangan terakhir 2025 kinerja sejumlah aset tercatat menguat.
Pada akhir perdagangan tahun lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pasar obligasi, hingga nilai tukar rupiah kompak mencatatkan penguatan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pasar keuangan domestik untuk melanjutkan tren positif pada awal tahun, di tengah sejumlah sentimen yang disebut akan mewarnai perdagangan, termasuk rilis S&P Global PMI manufaktur Indonesia serta dinamika eksternal.
Di pasar saham, pada perdagangan terakhir IHSG, Selasa (30/12/2025), indeks ditutup menguat tipis 0,03% ke level 8.646,93 atau naik 2,68 poin. Penutupan ini sekaligus menandai akhir perdagangan IHSG sepanjang 2025, dengan penguatan tahunan sebesar 22,13% dan mencatat 24 kali rekor penutupan tertinggi (all time high) selama tahun berjalan.
Aktivitas transaksi pada hari terakhir 2025 tercatat ramai. Volume perdagangan mencapai 37,23 miliar saham dalam 2,57 juta kali transaksi, dengan nilai transaksi harian sebesar Rp20,56 triliun. Kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp15.849 triliun.
Secara pergerakan, 346 saham menguat, 317 saham melemah, dan 146 saham stagnan. Investor asing membukukan jual bersih (net foreign outflow) sebesar Rp973,7 miliar.
Dari sisi sektoral, enam dari sebelas sektor menguat dan lima sektor melemah. Penguatan IHSG pada perdagangan terakhir 2025 ditopang sektor konsumer siklikal yang naik 3,03%, disusul sektor infrastruktur yang menguat 2,04%, serta sektor keuangan yang naik 0,97%.
Untuk saham individual, PT MD Pictures Tbk (FILM) memimpin penguatan setelah melesat 12,84% dan menyumbang 13,6 poin indeks. Penguatan juga diikuti PT Surya Semesta Internusa Tbk (SMMA) yang naik 12,62% dengan kontribusi 12,19 poin indeks. Sementara itu, tekanan terhadap IHSG datang dari sejumlah saham perbankan dan teknologi, di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang turun 3,17% dan berkontribusi -19,54 poin indeks, serta PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang melemah 6,77% dengan kontribusi -14,95 poin.
Di pasar valuta asing, rupiah menguat pada perdagangan terakhir 2025, Rabu (31/12/2025). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup di posisi Rp16.670 per dolar AS atau menguat 0,51%, sekaligus menjadi level terkuat dalam dua pekan terakhir sejak 15 Desember 2025. Namun, secara kumulatif sepanjang 2025 rupiah masih melemah 3,60% terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS di pasar global, sehingga rupiah bergerak berlawanan arah dengan tren global. Kondisi ini mengindikasikan adanya dukungan faktor domestik serta aliran dana ke aset berdenominasi rupiah menjelang penutupan tahun.
Di sisi global, penguatan dolar AS didorong sentimen dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode 9-10 Desember yang dinilai netral hingga cenderung hawkish. Dalam risalah tersebut, sebagian pejabat bank sentral AS menilai suku bunga acuan masih perlu dipertahankan pada level saat ini untuk beberapa waktu guna memastikan penurunan inflasi berjalan konsisten. Nada kebijakan yang lebih berhati-hati ini turut memperkuat ekspektasi bahwa periode suku bunga tinggi di AS berpotensi berlangsung lebih lama, sehingga menopang dolar AS.
Sementara itu, dari pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun tipis 0,02% ke level 6,119%. Penurunan imbal hasil mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap SBN, sedangkan kenaikan yield umumnya menandakan adanya aksi jual di pasar obligasi.

