Pasar keuangan Indonesia ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (14/4/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat, sementara nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) cenderung stagnan.
Di tengah dinamika tersebut, pasar diperkirakan masih menghadapi tekanan seiring ketidakpastian perang yang berlanjut dan aksi jual (sell-off) yang masih terjadi di pasar domestik. Selain itu, penantian terhadap pengumuman MSCI disebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar.
IHSG ditutup menguat 2,34% atau naik 175,76 poin ke level 7.675,95. Pada perdagangan itu, 548 saham menguat, 151 saham melemah, dan 119 saham tidak bergerak. Nilai transaksi tercatat Rp 24,85 triliun, melibatkan 53,31 miliar saham dalam 3,11 juta kali transaksi, dengan kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 13.710 triliun.
Hampir seluruh sektor menguat, dengan kenaikan terbesar dicatatkan sektor infrastruktur dan barang baku. Sementara itu, hanya sektor konsumer non primer yang melemah. Sejumlah emiten konglomerat dan saham-saham berfundamental kuat turut mengangkat indeks, dengan penggerak utama di antaranya DSSA, MORA, BBRI, BRPT, BBCA, BREN, AMMN, dan BMRI.
Dari sisi global, pergerakan pasar turut diwarnai rilis data makroekonomi, seperti neraca perdagangan China dan PPI AS, serta ketegangan geopolitik yang memanas karena belum tercapainya titik temu dalam negosiasi perang Iran-AS. Militer Amerika Serikat dilaporkan mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran pada Senin, sementara Teheran mengancam akan membalas terhadap pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk setelah perundingan akhir pekan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan.
Di sisi lain, seorang pejabat AS menyatakan komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan terdapat kemajuan dalam upaya mencapai kesepakatan. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengatakan bahwa upaya penyelesaian konflik masih berjalan.
Sementara itu, rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terdepresiasi 0,09% ke level Rp17.110/US$, sekaligus menjadi level penutupan terlemah sepanjang masa. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah menjadi empat hari perdagangan beruntun sejak 9 April 2026.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru melemah sekitar 0,20% ke level 98,176. Pelemahan rupiah terjadi ketika dolar AS sedang melemah di pasar global, sehingga rupiah dinilai belum mampu memanfaatkan pelemahan greenback untuk berbalik menguat.
Dolar AS bergerak dekat level terendah dalam enam pekan di tengah harapan konflik Iran dapat mereda. Kondisi tersebut menekan harga minyak dan mendorong perbaikan selera risiko investor. Presiden AS Donald Trump menyatakan masih ada pihak-pihak yang menginginkan kesepakatan antara AS dan Iran, meski pembicaraan pada akhir pekan lalu belum membuahkan hasil. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan kepada mitranya dari Prancis, Jean-Noel Barrot, bahwa negosiasi telah mencatat kemajuan dalam banyak isu meskipun belum ada kesepakatan final.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia menegaskan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral akan tetap hadir di pasar secara terukur, baik di pasar spot, NDF, maupun DNDF.
Di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun terpantau stagnan di level 6,604%, sama dengan penutupan hari perdagangan sebelumnya. Data Refinitiv menunjukkan SBN tidak mengalami pergerakan selama satu hari penuh.
Di pasar global, Wall Street dilaporkan kompak menguat karena investor cenderung mengabaikan ketegangan geopolitik yang berlangsung.