Jakarta — Memasuki pertengahan April 2026, pasar finansial global diwarnai kombinasi ketegangan geopolitik dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasar kredit swasta. Di tengah tekanan ekonomi makro, Bitcoin dilaporkan tetap bertahan di kisaran Rp1,2 miliar per keping, meski sempat mengalami penurunan seiring gejolak pasar energi dan sentimen risiko.
Sejumlah perkembangan ini dinilai tidak hanya berdampak pada pergerakan aset digital, tetapi juga berpotensi mengubah cara penyelesaian transaksi keuangan lintas negara, terutama melalui pemanfaatan stablecoin dalam sistem pembayaran dan perbankan.
Retakan di pasar kredit swasta, kekhawatiran krisis menyerupai 2008
Analisis terbaru menyoroti tekanan di pasar kredit swasta yang pada 2026 disebut telah mencapai sekitar US$3,5 triliun (setara Rp59,8 kuadriliun). Pada kuartal pertama tahun ini, investor dilaporkan berupaya menarik dana lebih dari US$20 miliar (sekitar Rp342 triliun) karena kekhawatiran terhadap likuiditas pasar.
Tekanan tersebut memunculkan langkah pembatasan penarikan dana oleh sejumlah manajer aset besar, seiring ketersediaan kas yang disebut menipis. Di sisi lain, S&P Dow Jones meluncurkan indeks credit default swap (CDS) baru yang dikaitkan dengan dana kredit swasta sebagai respons atas meningkatnya risiko gagal bayar.
Dalam proyeksi yang disebutkan, tingkat gagal bayar di sektor ini diperkirakan naik dari 5% menjadi 8%, dengan salah satu faktor yang disorot adalah gangguan teknologi AI terhadap portofolio pinjaman perusahaan perangkat lunak. Risiko di pasar kredit swasta dinilai sensitif karena sifatnya yang tidak teregulasi ketat dan kurang transparan dibanding aset yang diperdagangkan di pasar publik.
Blokade Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut memerintahkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz menyusul kegagalan perundingan nuklir dengan Iran. Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah WTI hingga 7% dan sempat disebut mencapai sekitar Rp1,6 juta per barel pada platform desentralisasi Hyperliquid.
Guncangan pasokan energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global serta menekan aset berisiko. Bitcoin dilaporkan sempat turun ke level US$70.850, atau sekitar Rp1,21 miliar per keping. Meski Arab Saudi disebut telah memulihkan pipa minyak Timur–Barat dengan kapasitas penuh 7 juta barel per hari, ancaman blokade tetap menjadi sumber ketidakpastian utama bagi pasar.
Stablecoin makin menonjol dalam penyelesaian transaksi
Di tengah gejolak pasar, pemanfaatan stablecoin disebut kian meluas sebagai infrastruktur penyelesaian transaksi yang lebih cepat. Disebutkan, sistem berbasis crypto mampu memindahkan dana hingga Rp179 kuadriliun dalam satu bulan. Stablecoin seperti USDC dilaporkan digunakan oleh institusi seperti Visa dan JPMorgan untuk mempercepat penyelesaian transaksi dan mengurangi ketergantungan pada sistem perbankan koresponden tradisional.
Data yang disampaikan menunjukkan konsentrasi besar pada penerbit utama. Volume transaksi USDC disebut mencapai US$8,3 triliun (Rp141,9 kuadriliun), sementara USDT sebesar US$1,7 triliun (Rp29,07 kuadriliun). Kapitalisasi pasar stablecoin disebut berada di sekitar US$317,89 miliar (Rp5.436 triliun).
Proyeksi jangka panjang untuk XRP setelah sengketa hukum
Untuk aset lain, Ripple (XRP) disebut memasuki fase yang dinilai lebih positif setelah melewati proses hukum panjang dengan SEC pada 2025. Disebutkan pula bahwa peluncuran produk ETF XRP dan stablecoin RLUSD menjadi katalis yang memperkuat minat institusi terhadap ekosistem Ripple.
Dalam proyeksi analis teknikal yang dikutip, XRP disebut berpotensi reli hingga 3.258% dalam 10 tahun. Target harga yang dicantumkan meliputi US$3,65 untuk 2025 (Rp62.422), US$40,29 untuk 2035 (Rp689.039), dan US$45 untuk 2036 (Rp769.590).
Risiko volatilitas dan ancaman keamanan
Di tengah volatilitas, strategi penyeimbangan portofolio disebut penting, termasuk membagi alokasi antara aset berkapitalisasi besar seperti Bitcoin dan Ethereum serta cadangan stablecoin. Rebalancing berkala juga disarankan agar komposisi aset tetap sesuai profil risiko.
Selain risiko harga, ancaman keamanan juga disorot, termasuk aktivitas peretas profesional yang disebut menggunakan identitas palsu untuk menyusup ke protokol DeFi dan mencuri dana dalam jumlah besar. Pembaca diingatkan untuk melakukan riset mandiri sebelum menempatkan dana pada platform tertentu.