Sejumlah pakar menilai pasar keuangan global sedang bergerak tidak searah dengan tekanan fundamental, di tengah lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran. Mereka memperingatkan, euforia investor yang dinilai keliru berisiko menyeret ekonomi dunia menuju resesi besar dalam waktu dekat.
Pendiri sekaligus Direktur Intelijen Pasar Energy Aspects, Amrita Sen, mengatakan investor saat ini cenderung meremehkan dampak guncangan harga minyak. Menurutnya, ketahanan pasar saham tidak mencerminkan kondisi yang semestinya terjadi ketika biaya energi melonjak tajam.
“Ini adalah teka-teki terbesar bagi kami. Seharusnya harga minyak lebih tinggi dan pasar saham jauh lebih lemah,” kata Sen kepada CNBC International, dikutip Selasa (5/5/2026). “Saya pikir kita terlena menuju potensi resesi yang cukup besar.”
Di tengah lonjakan harga minyak lebih dari 50% sejak konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari, indeks S&P 500 justru mencatat rekor tertinggi intraday di level 7.230,12 pada 1 Mei. Sen menilai, hal ini mencerminkan adanya “euforia yang sangat keliru” di kalangan investor global, yang menganggap krisis energi hanya berdampak terbatas, terutama bagi Asia.
Sen memperingatkan gangguan pasokan minyak berpotensi meluas dan menekan ekonomi global secara menyeluruh. Ia juga menyoroti janji OPEC untuk meningkatkan produksi minyak, namun menurutnya langkah itu masih jauh dari cukup untuk menggantikan pasokan yang hilang akibat konflik.
Menurut Sen, perhatian utama tertuju pada kondisi Selat Hormuz. Jika jalur vital tersebut tetap terganggu, dunia disebut harus menghadapi penurunan permintaan minyak secara drastis hingga 10 juta barel per hari, level yang terakhir terjadi pada 2013.
“Ini tantangan besar. Kita bahkan mungkin membutuhkan harga minyak yang lebih tinggi untuk menekan permintaan,” ujarnya.
Ke depan, Sen memperkirakan harga minyak mentah di kisaran US$80-90 per barel, atau sekitar Rp1,36 juta hingga Rp1,53 juta per barel, berpotensi menjadi batas bawah baru. Ia menilai harga tinggi yang bertahan lama dapat merambat ke berbagai sektor, mulai dari LNG, bahan kimia, hingga pupuk.
Ia juga mengingatkan dampak lanjutan terhadap harga pangan, seiring potensi gangguan transportasi urea serta keterbatasan pasokan gas untuk sektor pupuk. “Tunggu saja harga makanan mulai naik, karena gangguan transportasi urea dan terbatasnya pasokan gas untuk sektor pupuk,” katanya. “Ini adalah krisis energi besar-besaran.”
Sinyal serupa disampaikan Kepala Ekonom Eropa di Morgan Stanley, Jens Eisenschmidt. Ia melihat tekanan mulai terasa luas di berbagai sektor, termasuk industri penerbangan yang menghadapi potensi kekurangan bahan bakar jet.
“Ketegangan terlihat meningkat dalam sistem. Saya pikir kita mendekati hari perhitungan,” ujar Eisenschmidt.
Sementara itu, harga minyak global terus merangkak naik. Minyak mentah Brent tercatat mencapai US$111,23 per barel (sekitar Rp1,89 juta), sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$104,16 per barel (sekitar Rp1,77 juta).
Eisenschmidt menambahkan, jika konflik tidak segera mereda, peluang bank sentral seperti Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mengendalikan inflasi akan semakin kecil. Risiko kenaikan suku bunga tambahan pun dinilai kian terbuka.
“Kita harus benar-benar memperhatikan satu hingga dua minggu ke depan. Jika tidak ada solusi, saya pikir kenaikan suku bunga oleh ECB akan sulit dihindari,” katanya.