Novel Gadis Kretek karya penulis Indonesia Ratih Kumala resmi diluncurkan dalam versi bahasa Korea pada Kamis (13/3/2026) di ASEAN-Korea Centre (AKC), Seoul. Peluncuran ini disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat diplomasi budaya Indonesia melalui literatur serta memperkenalkan karya sastra nasional kepada publik Korea Selatan.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, mengatakan penerjemahan novel tersebut membuka ruang pemahaman yang lebih luas antara masyarakat kedua negara. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Korea selama ini kuat di bidang ekonomi dan diplomatik, namun cerita dalam Gadis Kretek dapat membantu memahami nilai, sejarah, dan kehidupan masyarakat masing-masing.
Cecep menambahkan, penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea tidak semata proses alih bahasa, melainkan bagian dari komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya Indonesia dan Korea.
Peluncuran buku ini diselenggarakan oleh HansaeYes24 Foundation melalui rangkaian program Southeast Asian Literature Series, sebuah inisiatif untuk memperkenalkan karya sastra dari negara-negara Asia Tenggara kepada pembaca Korea. Dalam program tersebut, sejumlah karya pilihan dari kawasan diterjemahkan ke dalam bahasa Korea agar dapat diakses masyarakat luas.
Cecep juga mengapresiasi komitmen HansaeYes24 Foundation dalam memperkenalkan sastra Asia Tenggara di Korea. Ia menyebut Gadis Kretek sebagai karya sastra Indonesia kedua yang diterbitkan yayasan itu setelah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka yang diterjemahkan dan dirilis pada 2022.
Chairperson HansaeYes24 Foundation, Baek Soomi, menilai sastra Asia Tenggara berperan penting dalam memperkaya dialog budaya di Korea. Ia menyampaikan bahwa ketika K-Culture mendapat perhatian besar dari dunia, Korea juga perlu membuka diri terhadap karya sastra dari budaya lain. Menurut Baek, pertukaran budaya melalui literatur dapat memperluas perspektif pembaca sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya.
Ratih Kumala menjelaskan, Gadis Kretek terinspirasi dari kisah pribadi keluarganya, khususnya kakek dari pihak ibunya yang pernah menjadi pengusaha kretek di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dari latar tersebut, ia mengembangkan karakter dan alur fiksi sejarah yang mengangkat dinamika industri kretek di Indonesia.
Novel ini pertama kali terbit pada 2012 melalui Gramedia Pustaka Utama dan mendapat perhatian luas di Indonesia. Popularitasnya meningkat setelah diadaptasi menjadi serial Netflix berjudul Cigarette Girl pada 2023, yang memperkenalkan budaya dan sejarah sosial Indonesia kepada penonton global.
Dalam rangka promosi di Korea Selatan, Ratih Kumala mengikuti acara Book Talk di Seoul Film Center pada 13 Maret 2026 yang mempertemukannya dengan pembaca Korea. Ia juga menghadiri acara Book Concert bertajuk “Beyond the Smoke” di National Asian Culture Center pada 14 Maret 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul turut berkolaborasi dengan HansaeYes24 Foundation untuk memperkenalkan aspek lain dari budaya Nusantara, termasuk menyajikan kopi khas Gayo dalam bentuk drip bag coffee. Kegiatan peluncuran dan promosi ini dinilai memiliki makna strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan sastra nasional kepada masyarakat internasional.

