Militer Israel menarik ratusan kendaraan buatan China dari para perwiranya sejak akhir 2025, menyusul kekhawatiran bahwa kendaraan tersebut berpotensi digunakan sebagai alat spionase dan memicu kebocoran data sensitif. Kebijakan ini disebut dikeluarkan langsung oleh Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, sebagai bagian dari langkah pengamanan terhadap risiko intelijen yang dinilai meningkat.
Menurut pakar politik China dari Beni Suef University, Mesir, Dr Nadia Helmy, keputusan tersebut tidak terlepas dari kekhawatiran global terhadap teknologi kendaraan pintar asal China. Dalam analisisnya yang dimuat di Modern Diplomacy pada Minggu (25/1/2026), Nadia menyatakan bahwa langkah militer Israel mencerminkan ketakutan bahwa teknologi otomotif China dapat dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan spionase digital Beijing.
IDF memerintahkan penarikan sekitar 700 kendaraan buatan China yang sebelumnya digunakan oleh para perwira. Salah satu model yang disebut adalah Chery Tiggo 8 Pro, yang sejak 2022 diperuntukkan bagi perwira senior berpangkat kolonel dan letnan kolonel. Selain penarikan kendaraan yang sudah beredar, pengiriman mobil listrik BYD Atto 3 yang direncanakan untuk perwira lainnya juga dibekukan.
Proses penarikan kendaraan tersebut dijadwalkan rampung pada kuartal pertama 2026. Sebelum keputusan penarikan total diberlakukan, militer Israel telah menerapkan pembatasan, termasuk melarang kendaraan buatan China memasuki pangkalan militer dan instalasi sensitif. Para pemilik diwajibkan memarkir kendaraan di area khusus di luar perimeter militer.

