Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan tidak terlalu khawatir dengan kembali memanasnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Menurutnya, kinerja ekspor Indonesia ke kedua negara tersebut masih menunjukkan tren positif.
“Kalau kita lihat dari angka-angka nggak ada masalah kan. Ekspor kita malah (surplus) terus. Surplus tertinggi kita malah ke Amerika, ekspor kita ke China juga naik,” ujar Budi saat ditemui di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (15/10).
Meski demikian, Budi menekankan pentingnya peningkatan daya saing produk ekspor agar kinerja perdagangan luar negeri tetap terjaga. Ia mengatakan produk apa pun dapat bersaing di pasar global selama memenuhi standar dan kualitas yang memadai.
Ia mencontohkan program pemerintah seperti Desa Ekspor yang bertujuan mendorong produk dari desa agar lebih terstandarisasi. Setelah melalui proses standardisasi, produk tersebut kemudian dapat diikutkan dalam program UMKM Bisa Ekspor agar memiliki peluang masuk ke pasar luar negeri.
Ketegangan AS-China kembali mencuat setelah China pada Kamis (9/10) mengumumkan pembatasan ekspor unsur tanah jarang yang memperluas kontrol atas teknologi pemrosesan dan manufaktur. Kebijakan itu juga melarang kerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin pemerintah terlebih dahulu.
Menanggapi langkah tersebut, pada Jumat (10/10), Presiden AS Donald Trump menyebut China menjadi “sangat bermusuhan” dan menilai kebijakan pengetatan ekspor secara mendadak membuat AS dan dunia menjadi “sandera.”

