Ramadan kerap disebut sebagai bulan Al-Quran. Penegasan ini tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 yang menyebut Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk, sekaligus pembeda antara yang hak dan yang batil.
Di tengah pemaknaan Ramadan sebagai bulan Al-Quran, dua peristiwa besar yang sering dibicarakan umat Islam adalah Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran. Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, menjelaskan bahwa turunnya Al-Quran terjadi dalam dua fase.
Fase pertama, menurut Bachtiar, adalah penurunan Al-Quran dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah. Peristiwa ini bertepatan dengan malam Lailatul Qadar. Ia juga menyinggung penjelasan mengenai istilah “lebih baik dari seribu bulan” dalam Surah Al-Qadr. Bachtiar menyampaikan bahwa ungkapan itu muncul saat kaum Muslimin mendengar seorang Yahudi mengaku beribadah tanpa henti selama seribu bulan, lalu Surah Al-Qadr turun sebagai kabar gembira bahwa satu malam ibadah di Lailatul Qadar melebihi hal tersebut.
Fase kedua adalah penurunan Al-Quran secara bertahap dari Baitul Izzah kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Bachtiar menyebut peristiwa ini diawali dengan turunnya Surah Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira.
Selain itu, Bachtiar menyoroti momen 17 Ramadan yang dikaitkan dengan Surah Al-Anfal ayat 41. Pada tanggal tersebut terjadi Perang Badar yang disebut Yaumal Furqan, yakni hari ketika dua pasukan, Muslimin dan Musyrikin, bertemu. Ia menyatakan, peristiwa inilah yang diperingati sebagai Nuzulul Quran pada 17 Ramadan.
Bachtiar menekankan bahwa Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran merupakan dua peristiwa yang berbeda, namun tidak perlu diperdebatkan. Keduanya dipandang sebagai anugerah di bulan Ramadan yang mendorong umat Islam meningkatkan ibadah, terutama pada 10 hari terakhir Ramadan.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi Al-Quran sebagai pedoman utama atau way of life yang semestinya menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan. Bachtiar juga mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mencintai, mempelajari, dan mengamalkan Al-Quran, sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Khairukum man taallamal Quran wa allamahu,” yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran.
Menurutnya, Al-Quran akan tetap relevan sepanjang zaman dan tidak pernah kering dari makna. Ia juga mengingatkan pentingnya menanamkan kecintaan pada Al-Quran kepada anak-cucu agar warisan keimanan terus terjaga.

