BERITA TERKINI
Masuknya Timor Leste ke ASEAN Dinilai Jadi Ujian Otonomi Strategis dan Peran Kawasan di Indo-Pasifik

Masuknya Timor Leste ke ASEAN Dinilai Jadi Ujian Otonomi Strategis dan Peran Kawasan di Indo-Pasifik

Rencana integrasi Timor Leste ke dalam ASEAN dinilai memiliki implikasi yang melampaui urusan administratif keanggotaan. Di tengah sistem multipolar yang kian dinamis, langkah ini dipandang sebagai ujian bagi kemampuan ASEAN menjaga otonomi strategis, mengelola tekanan geopolitik, dan mempertahankan sentralitasnya di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam kerangka tersebut, otonomi strategis ASEAN disebut hanya dapat dipertahankan melalui penguatan mekanisme kolektif dan penerapan prinsip balance of power yang pragmatis. Prinsip ini tidak dimaknai sebagai penolakan kerja sama dengan kekuatan besar, melainkan pengelolaan hubungan secara seimbang agar tidak memunculkan dominasi tunggal.

Pandangan realisme klasik menempatkan keseimbangan kekuatan sebagai kunci stabilitas internasional. Sementara itu, realisme neoklasik menambahkan dimensi domestik, yakni bagaimana persepsi elite memengaruhi sejauh mana negara berani menentang atau berkompromi terhadap tekanan eksternal.

Bagi ASEAN, keseimbangan itu dapat diwujudkan melalui diplomasi “equidistance”, yakni membangun hubungan strategis yang setara dengan Amerika Serikat dan Tiongkok. Pendekatan ini juga tercermin dalam ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (2019) yang menekankan prinsip keterbukaan, inklusivitas, serta kerja sama berbasis hukum internasional.

Dengan menempatkan Timor Leste dalam kerangka kebijakan luar negeri kolektif, ASEAN dinilai dapat menegaskan kembali posisinya sebagai regional balancer dalam menjaga stabilitas Indo-Pasifik. Namun, upaya menjaga otonomi strategis disebut tidak mudah karena ASEAN juga menghadapi tantangan internal.

Perbedaan kepentingan antarnegara anggota kerap memperlambat pengambilan keputusan kolektif, terutama terkait isu keamanan dan hubungan luar negeri. Dalam konteks ini, integrasi Timor Leste dipandang dapat menjadi ujian sekaligus peluang: apakah ASEAN mampu mengonsolidasikan posisi politiknya, atau justru semakin terpecah akibat tekanan geopolitik eksternal.

Merujuk pada pandangan Mearsheimer (2001) bahwa “the struggle for power never ends”, tantangan bagi ASEAN tidak hanya datang dari persaingan antarnegara besar, tetapi juga dari kebutuhan menjaga konsensus di antara anggotanya sendiri. Integrasi Timor Leste disebut dapat menjadi indikator apakah ASEAN mampu bertransformasi dari forum konsultatif menjadi aktor geopolitik dengan daya tawar nyata di Indo-Pasifik.

Secara keseluruhan, pengelolaan ASEAN terhadap keanggotaan Timor Leste dinilai sarat dimensi politik. Keberhasilan proses ini dipandang berpotensi memperkuat sentralitas dan kredibilitas ASEAN di Indo-Pasifik, sementara kegagalan dapat membuat ASEAN berisiko terpinggirkan oleh kekuatan eksternal. Karena itu, masuknya Timor Leste disebut bukan hanya langkah kecil bagi negara kecil, melainkan ujian penting bagi masa depan strategis ASEAN di kawasan.