Dinamika geopolitik global yang memanas dinilai menambah tekanan terhadap stabilitas ekonomi, khususnya pada sektor pembiayaan ekspor. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menyatakan memperketat langkah strategis untuk memastikan portofolio pembiayaan tetap sehat di tengah ketidakpastian pasar.
Dalam kondisi ekonomi global yang rentan terhadap guncangan eksternal, fokus utama lembaga pembiayaan ekspor ini diarahkan pada manajemen risiko yang disiplin agar rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap berada pada level yang aman.
LPEI menilai gejolak internasional dapat memicu efek domino, mulai dari volatilitas nilai tukar hingga fluktuasi harga komoditas. Untuk mengantisipasi skenario terburuk, lembaga ini menyusun prosedur mitigasi risiko yang terukur dan sistematis.
Sejumlah langkah yang disebutkan meliputi pelaksanaan stress testing secara berkala untuk mengukur ketahanan likuiditas dalam berbagai skenario tekanan ekonomi, diversifikasi portofolio pembiayaan lintas sektor industri dan negara tujuan ekspor untuk menghindari konsentrasi risiko, serta penguatan tata kelola internal melalui peningkatan kualitas proses pembiayaan dan pengawasan kontrol internal yang lebih ketat.
LPEI juga mengaktifkan sistem early warning detection untuk memantau kondisi debitur secara real time sebelum terjadi penurunan kinerja. Selain itu, lembaga ini memanfaatkan instrumen mitigasi risiko seperti asuransi dan penjaminan ekspor guna melindungi eksportir dari risiko perdagangan internasional, memperkuat manajemen likuiditas dan struktur pendanaan agar tetap fleksibel di tengah perubahan pasar keuangan, serta membangun kolaborasi strategis dengan lembaga keuangan domestik maupun internasional dan Export Credit Agencies untuk berbagi risiko.
Menurut LPEI, rangkaian upaya tersebut menjadi fondasi menjaga keberlanjutan bisnis di tengah iklim global yang dinamis, sekaligus untuk meminimalkan dampak ketegangan geopolitik terhadap portofolio pembiayaan nasional.
Efektivitas strategi manajemen risiko itu tercermin pada perbaikan indikator keuangan dalam setahun terakhir. LPEI mencatat rasio NPL net turun dari 4,5% pada 2024 menjadi 2,4% pada 2025. Pada 2025, penyaluran pembiayaan tercatat Rp 57,2 triliun, sementara laba bersih mencapai Rp 252 miliar.
Catatan dalam data tersebut menyebutkan pembiayaan pada 2025 tumbuh 2% secara year on year, sedangkan laba bersih meningkat 8% dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan NPL net dan pertumbuhan laba tersebut disebut menjadi sinyal positif atas ketahanan sektor ekspor di tengah tantangan eksternal.
Dalam penyaluran pembiayaan, LPEI menyatakan tetap memegang mandat mendorong daya saing ekspor nasional dengan memprioritaskan sektor-sektor strategis penyumbang devisa. Sektor yang menjadi fokus meliputi manufaktur, agribisnis, dan pertambangan.
Sektor manufaktur diposisikan sebagai penopang ekspor barang jadi bernilai tambah, agribisnis mengandalkan komoditas unggulan dengan permintaan yang cenderung konsisten, sementara pertambangan dinilai penting dalam pemenuhan kebutuhan energi dan bahan baku industri global. LPEI menyebut pengelolaan risiko pada sektor-sektor tersebut dilakukan secara disiplin, termasuk dengan pengawasan ketat dan dukungan instrumen asuransi, untuk memastikan pembiayaan yang disalurkan berdampak ekonomi nyata.
LPEI menegaskan strategi yang ditempuh tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga ditujukan agar eksportir Indonesia tetap memiliki ruang untuk berkembang di tengah ketidakpastian geopolitik. Kolaborasi dengan berbagai pihak internasional juga disebut membuka peluang peningkatan kapasitas pembiayaan pada masa mendatang.