Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat seiring lonjakan harga energi yang terjadi di tengah konflik Iran. Kenaikan biaya bahan bakar menekan daya beli masyarakat dan berpotensi mempersulit langkah bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga konsumen naik 3,3 persen secara tahunan pada Maret, meningkat tajam dari 2,4 persen pada Februari. Secara bulanan, inflasi tercatat naik 0,9 persen, menjadi kenaikan tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir.
Lonjakan harga energi disebut sebagai yang terbesar dalam enam dekade, dan mulai memunculkan dampak terhadap ekonomi rumah tangga. Kenaikan harga bahan bakar menggerus daya beli, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah dan menengah, karena porsi pengeluaran untuk energi meningkat dan menekan belanja kebutuhan lain seperti makanan serta sewa rumah.
Di sisi lain, inflasi inti—yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi—masih bergerak relatif stabil. Inflasi inti naik menjadi 2,6 persen secara tahunan dari 2,5 persen, sementara secara bulanan hanya meningkat 0,2 persen. Kondisi ini mengindikasikan dampak kenaikan bahan bakar belum sepenuhnya menyebar ke seluruh sektor, meski tekanan lebih luas diperkirakan dapat muncul dalam beberapa bulan mendatang.
Ekonom Oxford Economics, Michael Pearce, menilai tekanan inflasi akibat energi belum berhenti. Ia menyebut dampaknya terasa dalam jangka pendek dan bisa lebih berat pada April. Meski demikian, ia memandang situasi kali ini lebih menyerupai guncangan tajam jangka pendek dibandingkan periode 2022.
Ketidakpastian juga masih tinggi meski terdapat sinyal gencatan senjata. Jalur vital Selat Hormuz disebut belum sepenuhnya pulih, sehingga risiko gangguan pasokan energi tetap membayangi.
Dampak kenaikan harga energi turut merembet ke berbagai sektor. Industri penerbangan termasuk yang paling terdampak, dengan tarif penerbangan naik 2,7 persen dalam sebulan dan melonjak 14,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Biaya logistik juga meningkat setelah sejumlah perusahaan pengiriman seperti UPS dan FedEx menerapkan biaya tambahan bahan bakar, yang pada akhirnya berpotensi dibebankan kepada konsumen maupun pelaku usaha.
Tekanan pada sektor pangan belum terlihat signifikan dalam data terbaru. Harga bahan makanan turun 0,2 persen secara bulanan dan naik 1,9 persen secara tahunan. Namun, Wakil Presiden FMI-The Food Industry Association, Andy Harig, memperingatkan bahwa kenaikan harga energi dapat merembet ke rantai pasok pangan dan mendorong kenaikan harga bahan makanan ke depan, karena biaya produksi dan distribusi ikut meningkat.
Perkembangan inflasi ini berimplikasi pada kebijakan moneter. Dengan inflasi kembali menjauh dari target 2 persen, The Fed diperkirakan akan menunda rencana penurunan suku bunga.
Sentimen konsumen juga melemah. Survei University of Michigan mencatat indeks sentimen konsumen turun ke 47,6 pada April dari 53,3 pada bulan sebelumnya. Direktur survei Joanne Hsu menyatakan banyak konsumen mengaitkan memburuknya kondisi ekonomi dengan konflik Iran.
Tekanan biaya turut dirasakan pelaku usaha. Pendiri American Provenance, Kyle LaFond, mengatakan biaya pengiriman perusahaannya naik 30 hingga 40 persen. Ia mengaku menghadapi dilema untuk kembali menaikkan harga produk setelah sebelumnya sudah melakukannya, namun mempertimbangkan langkah itu demi menjaga kelangsungan bisnis.
Secara rata-rata, harga bahan bakar di AS kini mencapai USD4,15 per galon atau sekitar Rp70.135, naik hampir 40 persen dibandingkan sebelum perang yang berada di kisaran USD2,98 per galon atau sekitar Rp50.362. Kondisi ini menegaskan kembali bagaimana dinamika geopolitik dapat memicu gejolak ekonomi, ketika inflasi yang sempat melandai kembali berbalik naik di tengah ketidakpastian pemulihan.