Ketegangan militer antara China dan Taiwan kembali mencuat setelah Beijing menggelar latihan militer berskala luas di sekitar Taiwan. Manuver yang disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir itu melibatkan puluhan jet tempur, kapal perang, serta kapal penjaga pantai yang beroperasi di sekitar pulau tersebut sejak Senin (29/12/2025) waktu setempat.
Aktivitas ini dinilai sebagai yang paling intensif sejak 2022. Pemerintah China menyatakan latihan mencakup simulasi serangan darat dan laut, tembakan langsung, serta skenario pemblokadean pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan. Administrasi Keselamatan Maritim China juga menetapkan tujuh zona latihan tembak langsung, lebih banyak dibanding rencana awal lima zona. Lokasi latihan disebut berada lebih dekat ke wilayah Taiwan dibanding manuver-manuver sebelumnya, memperkuat sinyal tekanan militer Beijing terhadap Taipei.
Di tengah eskalasi tersebut, perbandingan kemampuan militer kedua pihak dapat dilihat melalui data Global Fire Power (GFP) 2025. GFP menggunakan Power Index, indikator yang mengukur kekuatan militer berdasarkan sejumlah aspek seperti personel, persenjataan, logistik, anggaran, hingga kesiapan tempur. Dalam sistem ini, semakin kecil nilai indeks, semakin kuat posisi militer suatu negara.
Pada 2025, China mencatat Power Index 0,078, sementara Taiwan berada di 0,398. Selisih ini menunjukkan kesenjangan kapabilitas militer yang lebar. Dari sisi peringkat global, China menempati urutan ke-3 kekuatan militer dunia, sedangkan Taiwan berada di peringkat ke-22.
Berdasarkan delapan indikator penilaian GFP, China unggul pada tujuh indikator, mulai dari jumlah personel militer, kekuatan angkatan udara, darat, dan laut, hingga kapasitas sumber daya alam, dukungan anggaran pertahanan, serta kemampuan logistik. Satu-satunya indikator yang menempatkan Taiwan lebih unggul adalah faktor geografi. Sebagai wilayah kepulauan dengan medan pertahanan yang kompleks, Taiwan dinilai memiliki keuntungan strategis dari sisi posisi wilayah, topografi, dan akses perairan yang mendukung strategi pertahanan defensif.
Perbedaan skala juga terlihat pada jumlah personel aktif. China memiliki 2.035.000 personel militer aktif, jauh di atas Taiwan yang memiliki 215.000 personel aktif. Dari sisi pendanaan, anggaran militer China pada 2025 tercatat mencapai US$266,85 miliar, sedangkan Taiwan sebesar US$19,74 miliar, yang berpengaruh pada kemampuan modernisasi alutsista, pengembangan teknologi militer, dan peningkatan kesiapan tempur.
Dalam kekuatan udara, China tercatat memiliki 1.212 pesawat tempur, sementara Taiwan memiliki 285 unit. Di sektor maritim, China memiliki 754 armada laut aktif, sedangkan Taiwan 97 armada. Dominasi armada ini mencakup berbagai jenis kapal, termasuk kapal selam, kapal perusak, fregat, hingga kapal induk.
Secara keseluruhan, peta kekuatan menurut GFP 2025 menunjukkan China unggul hampir di seluruh parameter utama, terutama pada skala personel, anggaran, serta jumlah alutsista. Taiwan, di sisi lain, dinilai memiliki keunggulan pada faktor geografi yang dapat menjadi elemen penting dalam strategi pertahanan.

