BERITA TERKINI
Laporan: Rusia Tempatkan MiG-31K Berserta Rudal Hipersonik Kinzhal di Kaliningrad

Laporan: Rusia Tempatkan MiG-31K Berserta Rudal Hipersonik Kinzhal di Kaliningrad

Ketegangan Rusia dan Ukraina yang turut melibatkan Amerika Serikat serta NATO masih belum menemukan titik temu. Di tengah upaya pembicaraan damai yang disebut sedang diupayakan Prancis, muncul laporan mengenai penempatan sistem persenjataan Rusia yang dinilai mendekat ke Eropa.

Menurut pemberitaan EurAsian Times, militer Rusia dilaporkan menempatkan jet tempur MiG-31K “Foxhound” yang dipersenjatai rudal serangan darat hipersonik “Kinzhal” di pangkalan wilayah Kaliningrad. Kaliningrad merupakan teritori Rusia yang berada di antara Polandia dan Lithuania, wilayah yang juga menjadi lokasi penempatan militer NATO.

Laporan tersebut menyertakan video yang memperlihatkan jet tempur dengan rudal Kinzhal mendarat di pangkalan udara angkatan laut Chkalovsk. Pangkalan itu disebut berada di area pesisir Laut Baltik.

Rudal Kinzhal diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 1.240 mil. Rudal ini disebut mampu membawa hulu ledak fragmentasi seberat 1.100 pon atau hulu ledak nuklir berkekuatan 500 kiloton, yang disebut 33 kali lebih kuat dibanding bom Fat Man yang digunakan di Hiroshima.

Dengan perkiraan jangkauan tersebut, Kinzhal dinilai dapat menjangkau kota-kota penting di Eropa, termasuk Berlin. Ibu kota Jerman itu diperkirakan bisa terkena serangan dalam waktu 7–10 menit setelah rudal diluncurkan dari Kaliningrad.

Analis militer Rob Lee, sebagaimana dikutip Rabu (9/2/2022), menyatakan bahwa dari Kaliningrad, Kinzhal dapat mencapai London, Paris, Roma, dan sebagian besar ibu kota negara anggota NATO lainnya di Eropa. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi langsung dari Kremlin terkait laporan penempatan tersebut.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut perang mungkin pecah jika Barat melakukan dua hal: Ukraina menjadi anggota NATO, dan aliansi itu bersama-sama berupaya merebut wilayah Krimea dari Rusia. “Tidak akan ada pemenang jika Ukraina bergabung dengan NATO dan kemudian mencoba untuk merebut kembali semenanjung Krimea yang Rusia merebutnya pada tahun 2014,” ujar Putin sebagaimana dilaporkan Reuters.

Konflik Rusia-Ukraina dinilai memiliki akar persoalan yang kompleks, tidak hanya terkait tarik-menarik pengaruh Barat dan Timur serta isu pencaplokan wilayah. Rusia dan Eropa juga saling bergantung, termasuk dalam hal energi, khususnya gas alam, sebagai penjual dan pembeli.