Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan hubungan Taiwan dengan Amerika Serikat (AS) berada dalam kondisi “sangat solid” di tengah meningkatnya tekanan dari China. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 10 Februari 2026, saat Lai menanggapi dinamika geopolitik di kawasan.
“Hubungan Taiwan-AS sangat solid. Semua proyek kerja sama akan terus berlanjut tanpa gangguan,” ujar Lai, sebagaimana dilansir AP News.
Penegasan tersebut muncul tak lama setelah Presiden China Xi Jinping mengeluarkan peringatan kepada Presiden AS Donald Trump terkait pasokan senjata AS ke Taiwan. Menurut catatan yang dikutip dalam laporan, transkrip percakapan yang memuat peringatan Xi telah dirilis oleh Kementerian Luar Negeri China.
Isu dukungan militer dan penjualan senjata AS ke Taiwan selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan utama dalam hubungan AS-China. Beijing secara konsisten menyatakan penolakan terhadap kerja sama militer Washington dengan Taipei, yang dipandang China sebagai campur tangan dalam urusan internalnya dan bentuk dukungan terhadap separatisme Taiwan.
China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menyatukan pulau itu dengan daratan utama. Beijing juga menerapkan kebijakan yang melarang negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengannya, termasuk AS, untuk menjalin hubungan resmi dengan Taipei.
Di sisi lain, meski AS tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat, Washington tetap menjadi pendukung informal yang penting serta pemasok senjata utama bagi Taiwan. Taiwan sendiri beroperasi sebagai negara demokrasi dengan pemerintahan sendiri dan terus berupaya memperkuat kapasitas pertahanannya di tengah dinamika geopolitik regional.

