BERITA TERKINI
Kunjungan Delegasi BRUDIFA ke Situbondo Buka Peluang Diplomasi Ekonomi Lewat Alpukat

Kunjungan Delegasi BRUDIFA ke Situbondo Buka Peluang Diplomasi Ekonomi Lewat Alpukat

SITUBONDO – Komoditas alpukat dari Situbondo menjadi pintu masuk diplomasi ekonomi antara Situbondo dan Brunei Darussalam. Hal itu mengemuka saat delegasi Brunei Darussalam–Indonesia Friendship Association (BRUDIFA) berkunjung ke Sampean Green Farm (SGF) di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, Sabtu (7/2/2026).

Kunjungan tersebut disebut sebagai lawatan balasan atas kunjungan Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, ke Brunei Darussalam pada Oktober 2025. Pertemuan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membuka ruang dialog antara warga dan pelaku usaha dari kedua negara.

Ketua Kunjung Hormat sekaligus Sekretaris BRUDIFA, Haji Muhammad Hafiy Bin Abdullah Fung, mengatakan keputusan singgah ke Situbondo berawal dari pesan Bupati Situbondo saat pertemuan sebelumnya. “Waktu itu Bapak Bupati berpesan, kalau turun ke Surabaya jangan lupa singgah ke Situbondo,” ujar Hafiy.

Di SGF, delegasi BRUDIFA meninjau kebun alpukat, berinteraksi dengan petani, hingga memetik buah langsung dari pohon. “Kita sudah sampai di sini dan kita rasa enak. Pagi ini kita dibawa ke kebun alpukat untuk memetik buah langsung,” kata Hafiy.

Menurut Hafiy, pengalaman tersebut menjadi bagian dari diplomasi rakyat, yakni hubungan antarmasyarakat yang dibangun melalui pembelajaran bersama dan pemahaman atas praktik ekonomi di tingkat akar rumput. Ia menyebut ada petani dan pelaku usaha yang ikut belajar agar hal-hal yang dinilai baik dari Situbondo bisa diterapkan di Brunei Darussalam atau dikembangkan menjadi peluang kemitraan bisnis.

Kunjungan ini sekaligus menempatkan sektor pertanian sebagai pintu masuk kerja sama ekonomi lokal. Bagi Situbondo, kehadiran delegasi BRUDIFA dipandang sebagai pengakuan atas potensi komoditas hortikultura yang selama ini berkembang di daerah.

Pemilik SGF, Hermanto, menyambut kunjungan tersebut sebagai kesempatan memperluas jejaring dan memperkenalkan potensi pertanian Situbondo ke tingkat internasional. “Alhamdulillah, dengan kunjungan dari Brunei Darussalam ini, semoga Sampean Green Farm dan petani di Situbondo bisa semakin dikenal,” kata Hermanto.

Selain alpukat, SGF juga mengembangkan durian unggulan seperti musang king, bawor, dan duri hitam. Hermanto menyebut hampir 100 pohon durian telah ditanam dan diproyeksikan mulai berbuah pada 2029.

Ia menilai keberhasilan alpukat dan durian tumbuh di Situbondo menjadi bukti prospek ekonomi lokal berbasis pertanian jika dikelola secara konsisten. “Kami berharap alpukat di Situbondo bisa dibudidayakan seperti mangga. Sudah terbukti bukan hanya tumbuh, tetapi juga berbuah,” ujarnya.

Sampean Green Farm yang mulai ditanam sejak 2023 telah melakukan panen sebanyak empat kali dan kini dikembangkan sebagai agrowisata petik buah. Dalam konsep ini, pengunjung dapat memetik dan memilih buah sendiri sebelum ditimbang, dengan harga yang disebut tetap mengacu pada harga pasaran. “Pengunjung bisa memetik sendiri, memilih sendiri, lalu ditimbang. Harganya tetap sama dengan harga pasaran,” ucap Hermanto.