BERITA TERKINI
KSPI Ingatkan Potensi PHK dalam Tiga Bulan, Dua Sektor Ini Disebut Paling Rentan

KSPI Ingatkan Potensi PHK dalam Tiga Bulan, Dua Sektor Ini Disebut Paling Rentan

Jakarta — Kondisi ekonomi di Indonesia disebut mulai melemah seiring dampak perang di Timur Tengah. Situasi ini dinilai dapat memicu tekanan pada sejumlah sektor usaha dan berujung pada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam tiga bulan ke depan.

Peringatan tersebut disampaikan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal. Menurutnya, ancaman PHK dipengaruhi kenaikan harga bahan baku serta melemahnya daya beli masyarakat pada sektor-sektor tertentu.

Dalam keterangannya, Said Iqbal menyebut ada beberapa bidang yang dinilai rentan terdampak. Dari informasi yang ia sampaikan, dua sektor yang dijelaskan secara rinci adalah industri tekstil serta industri plastik.

1. Tekstil dan produk tekstil

Said Iqbal menyatakan sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) berpotensi terdampak, mencakup industri benang, kain, hingga polyester. Ia menyebut sudah ada laporan dari anggota KSPI di perusahaan-perusahaan sektor tersebut terkait pembahasan kemungkinan pengurangan tenaga kerja.

“Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya,” kata Said Iqbal dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/26).

2. Industri plastik

Sektor lain yang disebut berisiko adalah industri plastik. Menurut Said Iqbal, industri ini tertekan akibat kenaikan harga bahan baku plastik yang disebut banyak bergantung pada impor, sehingga biaya produksi meningkat. Ia juga menyinggung pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang berpengaruh pada beban pembelian bahan baku.

“Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga plastik disebut dapat menekan daya beli. Said Iqbal mencontohkan perubahan kebiasaan pedagang yang sebelumnya menggunakan plastik sebagai pembungkus, namun kemudian beralih ke daun.

“Nah kalau harga plastik naik sampai 50 persen, daya beli masyarakatnya jadi menurun. Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik,” sambungnya.

Selain dua sektor tersebut, Said Iqbal juga menyebut masih ada tiga sektor lain yang dikaitkan dengan potensi PHK. Namun, rincian tiga sektor lainnya tidak dijelaskan dalam informasi yang tersedia.