BERITA TERKINI
Krisis Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Energi Global, Jalur Diplomasi Masih Dibuka

Krisis Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Energi Global, Jalur Diplomasi Masih Dibuka

Dunia kembali bergejolak setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Zionis Israel terhadap Iran pada akhir Februari memicu kerusakan infrastruktur dan korban jiwa dalam skala besar. Dalam peristiwa itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disebut turut menjadi korban.

Teheran kemudian melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan dan aset-aset militer AS yang tersebar di berbagai negara di kawasan Teluk Persia. Serangan Iran menggunakan rudal dan drone dilaporkan menghujani wilayah Israel hingga Semenanjung Arab.

Konflik tidak hanya berlangsung di darat dan udara. Iran juga memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur pengapalan minyak dan gas paling penting di dunia, sebagai respons atas serangan AS-Israel. Militer Iran mengancam akan meledakkan kapal yang berupaya menerobos keluar dari blokade.

Penutupan Selat Hormuz segera memunculkan dampak ekonomi. Harga minyak dunia naik, sementara kekhawatiran terhadap produksi berbagai komoditas ikut meningkat, mulai dari bahan bakar kendaraan hingga pupuk. Sejumlah negara, termasuk Jepang, dilaporkan membuka pasokan cadangan minyak untuk mencegah krisis energi akibat hambatan pasokan.

Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan kapal tanker masih bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah AS mengklaim telah “menghancurkan” kapal-kapal militer Iran, sembari menawarkan jaminan pengawalan dari kapal tempur AS. Namun, setelah sejumlah kapal yang nekat menerobos blokade diserang, Trump meminta negara-negara lain ikut bertanggung jawab atas keamanan kapal mereka, termasuk kepada China.

Selain China, Trump juga sempat meminta Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris mengirim kapal perang ke Selat Hormuz. Seruan tersebut disebut belum mendapat respons positif.

Di tengah dorongan pendekatan militer, beberapa negara memilih jalur berbeda. India, misalnya, disebut berhasil menjamin keamanan kapal tanker mereka melalui dialog dengan Teheran. Setelah dua kapal tanker India selamat melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (14/3), Menteri Luar Negeri India S Jaishankar mengatakan kepada Financial Times bahwa hal itu menjadi bukti keberhasilan diplomasi dan menunjukkan pentingnya “berdialog dan berkoordinasi, sehingga kita bisa mendapat solusi”.

Selat Hormuz merupakan jalur kunci suplai minyak dan LPG dari negara-negara Teluk ke pasar dunia. Sekitar 20 persen dari total perdagangan komoditas tersebut berasal dari selat itu. Kondisi ini membuat krisis di Hormuz ikut berdampak bagi Indonesia, mengingat sebagian pasokan energinya melintasi jalur tersebut. Pemerintah mencatat sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui selat antara Iran dan Oman itu.

Situasi kian menekan setelah dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia karena tidak dapat melintasi Selat Hormuz akibat perang. Pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Teheran kemudian melakukan pendekatan diplomatik intensif dengan otoritas Iran untuk memastikan kapal pembawa pasokan energi ke Indonesia dapat melintas dengan aman.

“Kita akan terus mendorong pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu spesifik ini, karena ini merupakan isu yang krusial untuk kita,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto menilai kondisi kawasan yang masih panas dan belum kondusif membuat upaya diplomasi perlu ditingkatkan. Dialog terus dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan di Iran untuk memastikan kepentingan Pertamina di sekitar Selat Hormuz tetap aman di tengah eskalasi konflik.

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai diplomasi sebagai langkah utama dapat membantu negara merespons dinamika kawasan secara tepat sekaligus menjaga kepercayaan Teheran yang tengah berkonflik dengan AS dan Israel. Menurutnya, pengawalan militer dan pengiriman kapal tempur ke Selat Hormuz, seperti yang diserukan Trump, berpotensi dipersepsikan Iran sebagai ketidakpercayaan terhadap jalur diplomasi.

“Pengawalan militer dapat dipersepsikan juga sebagai terang-terangan mendukung Amerika Serikat,” kata Rezasyah. Karena itu, ia memandang langkah Indonesia mempertahankan komunikasi dengan pemerintah Iran penting untuk memastikan kepentingan nasional, terutama keamanan energi. Ia juga mengingatkan agar Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan Iran dan bijak merespons langkah serangan balasan Teheran.

Di tengah ketegangan yang belum menunjukkan tanda mereda dan kekhawatiran atas pasokan energi dunia, sejumlah pihak masih menaruh harapan pada jalur diplomasi. Sikap ini sejalan dengan pernyataan Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei pada 12 Maret yang meminta kapal-kapal “mengoordinasikan pergerakannya dengan Angkatan Laut Iran demi keselamatan navigasi”.

“Ketidakamanan yang diciptakan Amerika Serikat dan Israel di kawasan mungkin berdampak pada pergerakan kapal, tetapi Iran tidak mau Selat Hormuz menjadi tidak aman,” kata Baghaei.