BERITA TERKINI
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Ekonomi, Pemerintah Soroti Peran Kelas Menengah

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Ekonomi, Pemerintah Soroti Peran Kelas Menengah

Perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh di tengah ketidakpastian global yang dipicu tensi geopolitik dan gangguan rantai pasok. Ketahanan tersebut terutama ditopang kuatnya konsumsi domestik, dengan kelas menengah disebut sebagai motor utama aktivitas ekonomi nasional.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54–55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Menurutnya, besarnya kontribusi itu menegaskan pentingnya peran kelas menengah dalam menjaga stabilitas sekaligus pertumbuhan ekonomi.

Di tengah tekanan ekonomi global, Indonesia dinilai relatif lebih resilien karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri dibandingkan sejumlah negara lain. Sejumlah indikator makroekonomi juga disebut menunjukkan kinerja positif, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5%, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan dan cadangan devisa yang tetap solid. Pemerintah pun menyatakan optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026 dapat tercapai.

Dalam paparannya, Susiwijono menyebut kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35% dari total penduduk atau sekitar 185,35 juta orang. Kelompok tersebut menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga dan daya beli nasional. Namun, terdapat pergeseran sebagian penduduk dari kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah yang dinilai mengindikasikan adanya tekanan daya beli, terutama di wilayah perkotaan.

Perubahan juga terlihat pada struktur ketenagakerjaan, ditandai meningkatnya porsi sektor jasa serta menurunnya pekerja formal. Seiring itu, pola konsumsi kelas menengah disebut bergeser ke kebutuhan non-makanan, seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup.

Pemerintah turut menyoroti fenomena Chilean Paradox sebagai pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu diikuti pemerataan kesejahteraan. Karena itu, arah kebijakan ekonomi tidak hanya difokuskan pada pencapaian pertumbuhan, tetapi juga memastikan inklusivitas.

Sejumlah program disebut terus diperkuat untuk menjaga daya beli masyarakat, antara lain bantuan sosial, insentif perpajakan, fasilitas pembiayaan perumahan melalui FLPP, subsidi energi, serta insentif otomotif. Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk menjadikan data dan hasil kajian sebagai dasar perumusan kebijakan agar kelas menengah tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.