BERITA TERKINI
Komisi Eropa Paparkan Rencana Penguatan Perbatasan UE dengan Rusia dan Belarus

Komisi Eropa Paparkan Rencana Penguatan Perbatasan UE dengan Rusia dan Belarus

Komisi Eropa mempresentasikan rencana dukungan bagi negara-negara Uni Eropa (UE) yang berbatasan dengan Rusia, Belarus, dan Ukraina. Paket dukungan itu mencakup peningkatan pendanaan pertahanan, modernisasi infrastruktur dwiguna, serta penguatan keamanan perbatasan.

Dalam pernyataannya pada Rabu (18/2), Komisi Eropa menyebut telah mengadopsi strategi komprehensif untuk meningkatkan dukungan bagi wilayah timur UE yang berbatasan dengan Rusia, Belarus, dan Ukraina.

Komisi menjelaskan, sejumlah wilayah dari sembilan negara anggota—Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, Slovakia, Hungaria, Rumania, dan Bulgaria—dinilai terdampak secara khusus oleh perang hibrida, migrasi yang dipersenjatai, gangguan ekonomi dan perdagangan, serta penurunan demografis.

UE merinci dukungan yang disiapkan meliputi peningkatan pendanaan untuk pertahanan, pengelolaan perbatasan, dan keamanan dalam negeri. Selain itu, rencana tersebut juga mencakup modernisasi jaringan transportasi dan infrastruktur dwiguna untuk kepentingan keamanan dan pembangunan.

Berdasarkan lembar fakta Komisi Eropa, total dukungan pinjaman sebesar 28 miliar euro direncanakan bagi negara-negara anggota terkait hingga akhir 2027. Pinjaman itu akan disalurkan melalui partisipasi lembaga keuangan internasional dan bank pembangunan nasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menyoroti aktivitas NATO yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya di sepanjang perbatasan barat negara itu. Kremlin menyatakan Rusia tidak mengancam siapa pun, namun tidak akan mengabaikan tindakan yang berpotensi membahayakan kepentingannya.

Dalam wawancara dengan jurnalis AS Tucker Carlson, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia tidak berniat menyerang negara-negara NATO dan menyebut langkah tersebut tidak masuk akal. Putin juga menyatakan para politisi Barat secara rutin menakut-nakuti populasi mereka dengan dugaan ancaman Rusia untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik.