BERITA TERKINI
Klaim Peristiwa Besar Pertengahan Ramadhan 2020 dan “Suara Dahsyat”: Menelusuri Sumber serta Penilaian Hadisnya

Klaim Peristiwa Besar Pertengahan Ramadhan 2020 dan “Suara Dahsyat”: Menelusuri Sumber serta Penilaian Hadisnya

Sejumlah informasi prediktif yang beredar beberapa bulan terakhir sempat memicu kekhawatiran di masyarakat. Isinya menyebut akan terjadi “peristiwa besar” pada pertengahan Ramadhan 2020 berupa suara sangat dahsyat yang mengejutkan penduduk dunia. Narasi itu juga diikuti rangkaian klaim lanjutan: kekacauan pada bulan Syawwal, perselisihan antarkelompok yang melibatkan warga dunia pada bulan Zulqa’dah, hingga peperangan pada Zulhijjah dan Muharram yang disebut menimbulkan banyak korban jiwa. Dalam versi yang beredar, orang yang selamat dikatakan adalah mereka yang tetap diam di rumah sambil bertasbih.

Klaim tersebut menyebar luas hingga ke berbagai lapisan masyarakat dan ramai dibicarakan di media sosial. Sebagian orang mengaitkannya dengan sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan, seperti wabah Covid-19, penutupan sementara Masjidil Haram untuk beribadah, serta bunyi aneh yang sempat dilaporkan sebagian warga di wilayah Jakarta, Depok, dan Bogor.

Asal-usul klaim: disandarkan pada riwayat hadis

Informasi yang beredar itu kerap dikaitkan dengan sebuah hadis yang disebut diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis. Di antaranya disebutkan nama Imam Nu’aim ibn Hammad dalam al-Fitan, Imam Abu Bakar ibn Abi ‘Ashim al-Syaibani dalam al-Ahad wa al-Matsani, Abu Sa’id al-Syasyi dalam Musnad al-Syasyi, Imam al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, serta Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan lainnya.

Redaksi riwayat-riwayat tersebut disebut beragam, namun substansinya dinilai serupa dengan narasi yang beredar. Ada yang dinisbatkan kepada Sahabat Abdullah ibn Mas’ud, ada yang kepada Sahabat Fairuz al-Dailami, dan ada pula yang kepada Sahabat Abu Hurairah.

Penilaian ulama hadis: dinilai lemah hingga palsu

Dalam kajian yang dirujuk pada tulisan sumber, hampir seluruh ahli hadis menilai riwayat tersebut bermasalah. Imam al-Hafidz al-Haitsami disebut menghukuminya sebagai hadis matruk (ditinggalkan/bermasalah berat). Sementara Imam al-Dzahabi dalam Talkhis-nya dan Ibn al-Jauzi dalam al-Maudhu’at-nya disebut menggolongkannya sebagai hadis maudhu’ (palsu).

Penilaian itu dikaitkan dengan keberadaan sejumlah perawi yang dinilai sangat lemah dalam sanadnya. Di antaranya:

  • Abdul Wahhab ibn al-Dhahhak, yang menurut beberapa ulama hadis disebut sebagai matruk al-hadis (dicurigai berdusta). Ia juga dinilai mungkar oleh sebagian ulama, bahkan dicap sebagai pembohong atau pemalsu hadis oleh sejumlah penilai. Nama ini disebut terdapat dalam sanad riwayat Abu Bakar ibn Abi ‘Ashim dan Imam al-Thabarani.
  • Abdullah ibn Lahi’ah, yang disebut dinilai dhaif (lemah). Disebut pula bahwa setelah kitabnya terbakar, periwayatannya tidak lagi diambil oleh para ahli hadis. Karena tidak ada kepastian apakah riwayat terkait berasal sebelum atau sesudah peristiwa itu, maka riwayatnya dinilai tidak dapat diterima. Nama ini disebut terdapat dalam riwayat Nu’aim ibn Hammad dan al-Syasyi.
  • Maslamah ibn ‘Ulay Ibn Khalaf al-Khusyani, yang disebut dicap mungkar oleh Imam Bukhari, Abu Zur’ah, dan Abu Hatim, serta dinilai matruk oleh Imam al-Nasa’i, al-Daruquthni, dan al-Burqani. Nama ini disebut terdapat dalam sanad riwayat Imam Hakim.

Dengan kondisi tersebut, dari jalur-jalur periwayatan yang diteliti dalam rujukan, tidak ada sanad yang dinilai bisa dipertanggungjawabkan untuk dijadikan dasar klaim peristiwa besar tersebut.

Tidak otomatis menguat meski jalurnya banyak

Rujukan juga menekankan bahwa banyaknya jalur periwayatan tidak serta-merta membuat hadis lemah menjadi kuat. Hadis dhaif yang bisa naik derajat menjadi hasan lighairihi umumnya adalah hadis dhaif dengan kelemahan yang tidak terlalu parah, misalnya karena hafalan perawi kurang kuat, sanad terputus, atau adanya perawi yang tidak dikenal. Adapun dalam riwayat yang dikaitkan dengan klaim pertengahan Ramadhan 2020, kelemahannya disebut berat karena melibatkan perawi yang dicurigai berdusta atau memalsukan hadis, sehingga tidak bisa saling menguatkan.

Sikap yang dianjurkan: tidak mudah percaya pada prediksi waktu

Kesimpulan yang disampaikan dalam rujukan tersebut menganjurkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai prediksi yang sudah terlanjur menyebar. Pada saat yang sama, umat diingatkan bahwa ajaran Islam memang memuat keterangan tentang tanda-tanda besar menjelang kiamat dalam hadis-hadis shahih, seperti adanya api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat (disebut diriwayatkan Imam Bukhari), serta peristiwa seperti turunnya Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari dari sebelah barat (disebut diriwayatkan Imam Muslim).

Namun, terkait rincian waktu terjadinya, rujukan menegaskan bahwa tidak ada manusia yang mengetahui kepastiannya. Hal itu dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan pengetahuan tentang perkara gaib berada di sisi Allah, antara lain Q.S. al-An’am: 59, serta ayat-ayat lain seperti Q.S. al-A’raf: 187, Q.S. al-Hijr: 85, Q.S. al-Nahl: 77, dan Q.S. al-Kahf: 21. Rujukan juga mengutip hadis shahih riwayat al-Bukhari dari Aisyah r.a yang menyatakan bahwa siapa pun yang mengatakan Nabi Muhammad mengetahui perkara gaib, maka ia berdusta, karena yang mengetahui perkara gaib hanyalah Allah.

Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk tidak larut dalam kecemasan atas prediksi yang tidak memiliki dasar kuat. Rujukan mengajak agar Ramadhan dijalani dengan memperbanyak ibadah dan doa, termasuk memohon agar wabah Covid-19 segera diangkat.