Republik Islam Iran tengah menghadapi situasi genting menyusul serangan bersenjata dari Israel dan Amerika Serikat. Perkembangan ini memicu kekhawatiran global atas eskalasi konflik di Timur Tengah, di tengah posisi Iran yang dikenal sebagai salah satu negara terdepan dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.
Di tengah tekanan militer dan ekonomi, Iran digambarkan memiliki tingkat resiliensi tinggi setelah bertahun-tahun menjalani embargo internasional. Meski berada dalam situasi sulit, aktivitas kebudayaan negara itu disebut tetap bergerak melalui film, sastra, hingga bidang sains dan teknologi.
Kondisi geopolitik yang memanas tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan kerja sama kebudayaan Iran-Indonesia yang baru diresmikan pada awal Juni 2025. Pada 2 Juni 2025, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Konsulat Kebudayaan Republik Islam Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, untuk memperkuat diplomasi budaya kedua negara.
Ruang lingkup kerja sama itu meliputi penerjemahan karya sastra secara dua arah, pertukaran seniman, serta kolaborasi lintas disiplin seperti film, pertunjukan, dan seni rupa. Ketua DKJ, Bambang Prihadi, menyatakan kerja sama tersebut dirancang sebagai proyek jangka panjang tanpa batas waktu, dengan tujuan memperluas wawasan budaya kedua bangsa sekaligus membangun dialog kreatif yang berkelanjutan.
Menurut Bambang, situasi krisis yang sedang dihadapi Iran tidak otomatis menghentikan kerja sama kebudayaan. Dalam wawancara pada 22 Juni 2025 malam, ia mengatakan Iran dinilai telah terbiasa menghadapi tekanan, namun tetap mampu hidup dan berkarya. Ia juga menekankan bahwa diplomasi budaya tidak mudah dipatahkan hanya karena perang.
Ia menambahkan, diplomasi budaya dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat identitas bangsa, bukan sekadar pertukaran kesenian. Bambang juga menyebut bahwa pada awal Juni, pihak Iran sempat bertemu dengan cendekiawan dari NU dan MUI untuk membicarakan peluang kerja sama yang lebih luas di sektor pendidikan, teknologi, serta seni budaya, yang disebut sebagai respons atas agresi Israel.

