NEW YORK — CEO Citadel, Ken Griffin, memperingatkan bahwa perekonomian global berpotensi masuk ke jurang resesi apabila penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam waktu lama. Ia menilai jalur tersebut merupakan titik vital yang dampaknya dapat merembet luas ke aktivitas ekonomi dunia.
Dalam konferensi ekonomi dunia yang digelar Semafor di Washington, D.C., Griffin mengatakan penutupan Selat Hormuz selama enam hingga 12 bulan hampir pasti akan memicu resesi global yang sulit dihindari. Pernyataan itu dikutip dari CNBC.
Griffin menambahkan, situasi tersebut dapat mempercepat peralihan ke energi alternatif, termasuk angin, surya, dan nuklir, seiring meningkatnya tekanan akibat gangguan pasokan energi.
Meski demikian, ia juga menilai dampak konflik bisa lebih buruk apabila Amerika Serikat menunda serangan hingga kemampuan militer Iran semakin kuat.
Di pasar keuangan, saham sempat pulih ke level sebelum serangan AS ke Iran pada Februari. Namun, Griffin menilai optimisme investor masih rapuh karena sangat bergantung pada durasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, risiko eskalasi yang lebih besar bahkan belum sepenuhnya tercermin dalam harga pasar.
Sementara itu, ekonomi global—terutama di Asia—dinilai tetap rentan terhadap lonjakan harga minyak. Harga minyak saat ini bertahan di kisaran US$100 per barel, jauh di atas level sebelum konflik yang berada di bawah US$70 per barel.