Kementerian Pertanian (Kementan) merespons fenomena kenaikan harga telur di berbagai negara yang belakangan disebut sebagai “eggflation”. Sejumlah laporan menyebut harga telur naik hingga 15% secara global, yang turut mendorong kenaikan harga makanan berbahan telur, seperti kue kering, hingga mencetak rekor tertinggi. Wabah flu burung disebut sebagai salah satu pemicu lonjakan tersebut.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan M. Arief Cahyono menilai kondisi ini unik karena terjadi di negara-negara eksportir grand parent stock (GPS) atau nenek induk ayam ke Indonesia. Menurutnya, negara seperti Amerika Serikat, Prancis, dan beberapa negara Eropa yang selama ini menjadi pemasok utama GPS kini menghadapi kekurangan pasokan serta lonjakan harga telur akibat wabah penyakit unggas dan kenaikan biaya produksi.
“Kondisi yang kurang stabil di negara-negara tersebut menunjukkan bahwa industri peternakan ayam petelur secara global sedang menghadapi tantangan,” kata Arief dalam keterangannya, Selasa (25/3/2025).
Di Indonesia, Arief menyampaikan harga telur ayam ras masih relatif stabil dengan stok yang terjaga, bahkan disebut melimpah. Per Selasa (25/3/2025), harga telur ayam ras nasional tercatat Rp29.475 per kilogram. Di Jakarta, harga disebut lebih rendah dari rata-rata nasional, yakni Rp27.688 per kilogram.
Arief juga menyampaikan pemerintah berupaya menjaga stok dan harga komoditas pangan strategis, termasuk telur, terutama selama Ramadan dan menjelang Lebaran. Ia menegaskan neraca telur ayam nasional saat ini berada dalam kondisi surplus, yang mencerminkan kapasitas produksi domestik yang kuat. Menurutnya, pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara pasokan dan harga agar tidak merugikan peternak maupun konsumen.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2025 yang dihimpun Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 6,4 juta ton, sementara kebutuhan bulanan sekitar 518 ribu ton. Dengan perhitungan tersebut, Indonesia diproyeksikan tetap mengalami surplus.
Untuk menopang stabilitas pasokan, Kementan menyebut fokus pada stabilisasi ketersediaan bahan baku pakan melalui sejumlah program, antara lain pengembangan sentra jagung, optimasi distribusi pakan, dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Arief menyatakan peningkatan produksi jagung nasional sebagai sumber utama pakan ternak menjadi faktor penting dalam menjaga kestabilan harga dan pasokan telur di dalam negeri.
Di tengah kondisi surplus, Kementan juga membuka peluang ekspor telur ayam ke negara-negara yang mengalami keterbatasan pasokan. Arief menyebut salah satu rencana ekspor diarahkan ke Amerika Serikat. “Berdasarkan neraca komoditas, pemerintah siap mengirimkan 1,6 juta butir telur setiap bulan,” ujarnya.

