BERITA TERKINI
Kemenperin Dorong Diversifikasi dan Digitalisasi agar IKM Kerajinan Makin Kompetitif di Pasar Global

Kemenperin Dorong Diversifikasi dan Digitalisasi agar IKM Kerajinan Makin Kompetitif di Pasar Global

Sektor industri kerajinan nasional dinilai terus menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika ekonomi global. Selain berkontribusi pada devisa, industri ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga menjadi salah satu penopang ekonomi berbasis kerakyatan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) memperkuat berbagai langkah untuk meningkatkan daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan, terutama di daerah. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut perubahan selera pasar sebagai tantangan sekaligus peluang bagi industri kerajinan.

Agus menjelaskan, konsumen kini cenderung mencari produk yang spesifik, unik, tetap fungsional, dan memiliki nilai tambah. Karena itu, diversifikasi produk dipandang menjadi kunci agar produk kerajinan Indonesia semakin kompetitif. Menurutnya, diversifikasi bukan sekadar menambah varian, tetapi strategi memperluas pasar tanpa harus membangun lini produksi baru dari awal. Dengan memanfaatkan bahan baku dan proses produksi yang serupa, pelaku IKM dapat menjangkau segmen pasar lebih luas secara efisien.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat dan cepat berubah, Kemenperin menilai inovasi perlu dilakukan agar produk kerajinan tidak tertinggal, meski memiliki nilai budaya yang tinggi.

Data Kemenperin mencatat, sepanjang 2025 nilai ekspor industri kerajinan mencapai USD 806,63 juta, tumbuh 15,46% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 698,62 juta. Tren ini berlanjut pada awal 2026. Pada Januari 2026, ekspor tercatat USD 52,38 juta atau naik 19,49% secara tahunan.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menilai potensi ekspor sektor ini masih besar untuk dioptimalkan, dengan inovasi berkelanjutan sebagai kunci utama. Sebagai bagian dari upaya percepatan, Ditjen IKMA menggelar Pendampingan Teknis Diversifikasi Produk di Kabupaten Cirebon pada 14–17 April 2026, yang menjadi rangkaian menuju HUT Dekranas 2026.

Cirebon dipilih karena dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan unggulan, mulai dari rotan, kayu, hingga batik. Namun Reni menekankan, potensi saja tidak cukup dan pelaku IKM tetap membutuhkan pendampingan agar mampu membaca tren serta berani berinovasi. Ia juga menyebut pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dapat membantu pelaku usaha membaca tren pasar dan memunculkan ide produk baru.

Selain penguatan inovasi produk, strategi pemasaran juga didorong untuk beradaptasi. Kemenperin mendorong pelaku IKM memaksimalkan platform digital agar dapat menjangkau pasar internasional tanpa batas geografis. Berbagai program pendukung disebut terus diperluas, mulai dari pelatihan, fasilitasi pameran, sertifikasi, hingga program e-smart IKM yang berfokus pada digitalisasi bisnis.

Kemenperin menyatakan dampak pendampingan mulai terlihat. Salah satu IKM binaan di Cirebon yang memproduksi merchandise berbahan kulit disebut telah menembus pasar ekspor hingga Rusia. Capaian itu dinilai menunjukkan bahwa kombinasi inovasi produk, pendampingan intensif, dan strategi pemasaran yang tepat dapat membuka akses global bagi pelaku IKM.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan berharap dukungan pemerintah daerah terus diperkuat untuk membangun ekosistem industri kerajinan yang lebih kokoh. Ia juga mengaitkan penguatan tersebut dengan Peraturan Daerah Kabupaten Cirebon Nomor 1 Tahun 2026 yang menetapkan tiga sektor unggulan, yakni industri makanan olahan, kerajinan (rotan, kayu, bambu), serta fesyen dan batik.

Budi menegaskan pendampingan berkelanjutan dinilai efektif mendorong IKM naik kelas dan memperluas pasar ekspor. Meski tren kinerja ekspor menunjukkan perbaikan, tantangan disebut masih ada, mulai dari persaingan global, perubahan selera konsumen, hingga kebutuhan adaptasi teknologi. Dengan strategi diversifikasi produk, pemanfaatan teknologi, dan digitalisasi pemasaran, industri kerajinan Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus tumbuh dan memperkuat posisinya di pasar global.