Asia Timur kerap disebut sebagai arena perebutan pengaruh geopolitik, tempat sejumlah kekuatan besar—terutama China dan Jepang—berinteraksi sekaligus berkompetisi. Dinamika keamanan kawasan ini juga dipengaruhi oleh isu lain, seperti konfrontasi Korea Utara dan Korea Selatan, serta posisi Jepang yang tetap memilih menjadi mitra keamanan Amerika Serikat.
Dalam konteks keamanan regional, Asia Timur dipandang sebagai kawasan yang rawan dan rentan. Berbagai persoalan seperti persengketaan wilayah, proliferasi nuklir, terorisme, perlombaan senjata, dan rivalitas negara-negara berkekuatan besar menjadi faktor yang membentuk instabilitas di Asia Pasifik. Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II turut membentuk posisinya dalam hegemoni Amerika Serikat, sehingga kebijakan luar negeri—terutama pertahanan—sering dikaitkan dengan pengaruh aliansi tersebut.
Potensi konflik dan faktor historis
Konstelasi politik Asia Timur yang dinilai tidak menentu mendorong Jepang memperkuat aspek material negara, khususnya pertahanan dan keamanan. Kawasan ini disebut memiliki potensi konflik antarnegaranya yang cukup kuat, dengan interaksi Jepang, China, Korea Selatan, dan Korea Utara yang kerap memicu ketegangan terkait beragam isu.
Hubungan China dan Jepang tidak terlepas dari faktor historis, terutama terkait masa kolonialisme dan catatan invasi Jepang ke China pada periode Perang Pasifik. Sejarah tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan yang berulang, dengan hubungan yang mengalami pasang surut pada periode 1979–1995. Meski kedua negara disebut telah melakukan normalisasi hubungan sejak 1992, relasi bilateral tidak selalu berjalan mulus.
Persaingan keamanan dan sengketa teritorial
Persaingan kedua negara tidak hanya terjadi dalam ranah ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek militer. Salah satu contoh yang disebut adalah perebutan kepentingan atas Pulau Senkaku/Diaoyu. Kondisi ini membentuk rasa saling takut dan kecurigaan, yang kemudian mendorong masing-masing pihak membangun sistem pertahanan untuk menjamin keamanan nasionalnya.
Dalam konteks pascaperang, hubungan keamanan China–Jepang juga dipandang berkaitan erat dengan integrasi Jepang ke dalam sistem aliansi Amerika Serikat di Asia Timur. Integrasi tersebut disebut menghalangi kontak militer langsung Jepang dan China, sekaligus memunculkan tensi keamanan di antara keduanya.
Rebut pengaruh di forum regional
Persaingan China dan Jepang juga terlihat dalam upaya memperebutkan kepemimpinan dan mendorong integrasi kawasan melalui berbagai forum multilateral. Beberapa wadah yang disebut antara lain ASEAN Plus Three (APT), Six Party Talks (6PT), dan ASEAN Regional Forum (ARF).
Peran China di APT dinilai dominan dan kerap dikritik sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh di kawasan.
Peran Jepang yang kuat di East Asia Summit disebut dipandang sebagai perpanjangan kepentingan nasional untuk menjadi kekuatan regional unggul secara ekonomi.
Kompetisi pengaruh ini memperlihatkan bagaimana kedua negara berupaya menjadi kekuatan dominan dalam institusi regional, yang pada gilirannya turut memengaruhi stabilitas Asia Timur.
Masa depan stabilitas kawasan
Asia Timur diproyeksikan menjadi motor ekonomi dunia dengan munculnya kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Namun, persaingan di antara negara-negara besar membuat masing-masing pihak terjebak dalam pandangan saling mengancam. Memanasnya hubungan China dan Jepang disebut membawa kawasan ke kondisi yang semakin rapuh.
Stabilitas kawasan dinilai berpeluang mereda bila terdapat kerja sama dalam penyelesaian konflik antarnegaranya, termasuk konflik di Semenanjung Korea. Meski demikian, upaya mengesampingkan kepentingan dan beban sejarah dinilai sulit terwujud. Dalam dinamika ini, aspek militer disebut menjadi kunci penting bagi Jepang dan China untuk menjaga eksistensi dan kelangsungan masing-masing negara di Asia Timur.

